Keajaiban Sholawat Burdah dalam Perang Jawa: Karomah Pangeran Diponegoro di Rawa Pening

- Penulis

Minggu, 17 Agustus 2025 - 20:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pada malam Jumat Pahing, bertepatan dengan Sabtu Pon tanggal 29 September 1829, satu episode penting dalam Perang Jawa mengguncang bibir sejarah. Pasukan Pangeran Diponegoro yang gigih menghadapi tekanan luar biasa dari pasukan Belanda tengah dalam keadaan terdesak parah. Secara matematis, peluang untuk keluar dari situasi genting ini tampak nihil.

Di belakang medan perang, sorak kemenangan ribuan tentara Belanda bergema. Mereka sudah membayangkan akhir dari Perang Diponegoro yang telah menguras habis tenaga, harta, dan nyawa. Dalam kondisi seolah tiada pilihan selain melawan hingga mati atau menyerah, Pangeran Diponegoro justru memilih jalan iman dan doa.

Dalam kepasrahan dan keteguhan, beliau melantunkan bait dari Sholawat Burdah:

وقاية الله أغنت عن مضاعفة … من الدّروع وعن عال من الأطم

Artinya:

“Perlindungan Allah jauh lebih berlimpah daripada baju besi yang berlapis-lapis dan benteng yang kokoh serta tinggi.”

Doa dan sholawat yang dipanjatkan dengan penuh kekhusyukan itu tak luput dari perhatian Allah SWT. Malaikat pun diutus untuk menyampaikan kabar gembira:

“Tidak usah ragu wahai Kekasih Allah, lompatkan kudamu ke dalam rawa yang terbentang di depanmu.”

Pangeran Diponegoro menjawab dengan tegas dan patuh:

Baca Juga :  Tirakat Menahan Rindu: Kenapa Terlalu Sering ‘Nyambang’ Anak di Pondok Justru Bikin Runyam

“Sami’naa wa atho’naa” — Kami dengar dan kami taat.

Dengan penuh keyakinan, beliau membedal kudanya dan mengajak pasukannya menembus rawa dalam yang menghantui medan perang itu. Namun atas izin Allah, bukannya terperosok atau tenggelam, kuda yang ditunggangi Pangeran Diponegoro justru mampu berlari tegap di atas permukaan air rawa Pening. Pasukannya pun mengikutinya dengan percaya penuh, menyeberangi rawa sepanjang 8 kilometer dari Ambarawa menuju Tuntang dengan selamat.

Sebaliknya, pasukan Belanda yang nekat mengejar beliau malah tenggelam dalam jerat rawa yang dalam dan mematikan.

Peristiwa ini bukan sekadar kisah heroik, melainkan bukti nyata karomah — keajaiban yang hanya datang dari kedalaman riyadloh, ketekunan spiritual, ketaatan, dan cinta tanpa batas kepada Allah dan Rasul-Nya. Sholawat Burdah, yang sering dipanjatkan para salaf dan santri, menjadi penghubung kuat antara hamba dan Sang Maha Pencipta, menembus batas kenyataan duniawi.

Di Kajen Pati, tradisi pembacaan Sholawat Burdah rutin digelar setiap malam tanggal 15 Qamariyah oleh para santri sebagai wujud pengharapan dan penguatan spiritual. Selain itu, manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani dibaca tiap malam 11 Qamariyah, serta Qasidah Munfarijah yang dibaca di saat-saat genting menghadapi berbagai ujian hidup.

Baca Juga :  Ilmu Sosial Profetik dan Social Capital sebagai Pondasi bagi Peradaban Islam Modern

Kisah Pangeran Diponegoro dan keajaiban Sholawat Burdah mengajarkan kita bahwa dalam keadaan paling sulit sekalipun, jika hati dilandasi keimanan yang kuat dan doa dipanjatkan dengan penuh keyakinan, pertolongan Ilahi tak pernah absen. Segala bentuk perlindungan duniawi—seperti senjata dan benteng—adalah fana, sementara perlindungan Allah adalah hakiki dan kekal.

Ini juga menegaskan pentingnya menguatkan spiritualitas melalui dzikir, doa, dan sholawat sebagai benteng hati dalam menghadapi tantangan hidup yang tampak mustahil teratasi.

Perang Jawa, sebuah bab bersejarah yang sarat dengan kisah heroik dan spiritual, menyimpan pelajaran berharga bagi setiap insan beriman. Keberanian, ketaatan, dan keimanan Pangeran Diponegoro yang tersambung dengan karomah sholawat Burdah adalah teladan abadi bagi kita semua untuk menghadapi ujian hidup dengan iman dan keberanian.

Oleh: Muhammad Zaidun Lc MHum | Direktur Madin Diponegoro | Pendidik MIMAGO | Tulisan dinukil dari Almaghfurlah KH. Nur Rohmat, Plangitan Pati Jawa Tengah

Penulis : Fauzan Satyanegara

Editor : Dipadilaga

Sumber Berita: Muhammad Zaidun Lc MHum

Berita Terkait

GURU: KEPAKAN KECIL YANG MENGGERAKKAN PERADABAN
PENDATAAN ANGGOTA DAN PENGURUS PW PERGUNU DIY
Drama Minta “Boyong”: Saat Anak Merengek Berhenti Mondok, Orang Tua Harus Apa?
Tirakat Menahan Rindu: Kenapa Terlalu Sering ‘Nyambang’ Anak di Pondok Justru Bikin Runyam
Ikhtiar Mencetak Generasi Rabbani di Kota Pelajar: Profil Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro dan Info Penerimaan Santri Baru
9 Pesantren Terbaik di Jogja, Ponpes Pangeran Diponegoro Masuk Jajaran Unggulan
Ketika Belajar Jadi Menyenangkan: Rahasia di Balik Pendekatan Deep Learning
Berita ini 194 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 6 Mei 2026 - 13:39 WIB

Rabu, 6 Mei 2026 - 13:31 WIB

GURU: KEPAKAN KECIL YANG MENGGERAKKAN PERADABAN

Rabu, 6 Mei 2026 - 09:43 WIB

PENDATAAN ANGGOTA DAN PENGURUS PW PERGUNU DIY

Kamis, 30 April 2026 - 08:18 WIB

Drama Minta “Boyong”: Saat Anak Merengek Berhenti Mondok, Orang Tua Harus Apa?

Kamis, 30 April 2026 - 07:23 WIB

Tirakat Menahan Rindu: Kenapa Terlalu Sering ‘Nyambang’ Anak di Pondok Justru Bikin Runyam

Berita Terbaru

Artikel

Rabu, 6 Mei 2026 - 13:39 WIB

Artikel

GURU: KEPAKAN KECIL YANG MENGGERAKKAN PERADABAN

Rabu, 6 Mei 2026 - 13:31 WIB

Artikel

PENDATAAN ANGGOTA DAN PENGURUS PW PERGUNU DIY

Rabu, 6 Mei 2026 - 09:43 WIB