Metode Tarjim Al-Qur’an KH M Muslich

INOVASI PEMBELAJARAN AL-QUR'AN DIERA DISRUPSI & SOCIETY

Ahmad Sobari abstraksikan Metode Tarjim Al-Qurán

Pergunu DIY –SLEMAN– Yayasan Andarjo Sleman Yogyakartad dan MA Diponegoro menerima sosialisasi Metodologi Program Tarjim Al-Qurán Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin (YAHTADI) Lumajang Jawa Timur, KH M Muslich  di rumah Ahmad Sobari, Penen Donoharjo Ngaglik Sleman pada Jumat (27/1/22).  Cara kita mendapatkan ilmu dahulu tidak lagi bisa begitu saja berlaku. Paham Al-Qurán bersyarat kuasai ilmu nahwu, saraf, dan balaghah terlalu lama. Santri keburu rabi takkan bisa menguasainya. Seyogyanya inovasi metodologi pengajaran menjawabnya. Demikian kiyai pendiri SMP Sain Al-Quran YAHTADI memaparkan.

Kurikulum SMP Sain Al-Qur’an YAHTADI selama 3 tahun terbagi dalam enam semester. Semester 1 untuk perbaikan bacaan Al-Qur’an ( tahsinul qiro’ah). Semester 2 dan 3 untuk program tarjim Al-Qur’an 30 juz, dan kupasan Shorof, Nahwu, dan Balaghoh. Pada semester 4 anak memilih jurusan antara tahfidh/ kitab. Kalau memilih tahfidh maka semester 5 maksimal semester 6 harus selesai 30 juz. Kalau memilih program kitab maka semester 5 maksimal semester 6 harus bisa membaca Kitab Fathul Qorib, gundulan, lafdhon, ma’nan, wa muroodan.

Tarjim Al-Quran sebenarnya metodologi pengajaran lama. Karena perkembangan zaman disrupsi maka pentingnya inovasi. Cara mendapatkan ilmu kita dahulu tidak serta merta berlaku. Tujuanya paham Al-Qurán, jalanya dibalik. Belajar menterjemahkan Al-Qurán diringi belajar ilmu alat; nahwu, sharaf, dan balaghah. Sehari menterjemahkan 8 lembar. Dimulai dari Juz 1-30. Konten nahwu, shorof, dan balagah (kosa-kata, tata bahasa, dan sastra) melekat pada surat-surat. Menterjemahkan sekalian mengidentifikasi dan menggunakan perangkat ilmu alatnya. Hafal Al-Quran dan mampu menterjemahkannya dalam tempo 6 bulan.    

Tarjim Al-Qurán telah dipergunakan di berbagai satuan pendidikan, pondok pesantren dan perguruan tinggi. Antara lain SMP-SMA Al-Khatijah Surabaya, Al-Falah Surabaya, Pesantren Al-Hikam Malang, Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Kiyai Muslich mensinyalir bertahun-tahun santri belajar bahasa Arab namun tidak bisa bahasa Arab. Produk gagal pendidikan semestinya diperlukan inovasi. Di YAHTADI sendiri telah menghasilkan hafaizd dan faham Al-Qurán, natural dalam tempo 6- 9 bulan.

KH M Muslich mengingatkan bahwa kewajiban kita atas Al-Qurán ada lima. Yakni mengimani sebagai kitab Allah, membaca, memahami, melaksanakan, dan mendakwahkannya. Tarjim Al-Quran merupakan metodologi inovasi yang sudah disemai Sunan Bonang, maca Qurán angen-angen sak maknane. Mengajarkannya berarti mengamalkan kewajiban tersebut. Sekarang ini sangat sulit mencari anak-anak yang mau mengaji. Bilamana sudah wisuda Juz Ámma sudah tidak mau lagi mengaji. Mbok menawa metode Tarjim Al-Qurán cocok dan orang yang mau belajar Qurán mudah mendapatkan pemahaman. 

Kitab suci Al-Qurán mudah dipelajari, dihafal, pun diterjemahkan. Jika bukan kitab-Nya sulit pastinya.Sampai empat kali Allah Swt meyakinkan bahwa Al-Qurán mudah dibaca, dihafal, dan difahami. Lihat pada QS Al-Qomar 54: 17, 22, 32, dan 40. Kosa kata keseluruhan 77450 dan kata-kata yang diulang mencapai 79%. Santri-santri Yahtadi Lumajang banyak yang ngewes, sangat lancar membaca, dan terang menterjemahkan Al-Qurán. Metodologi Tarjim membantu para santri enam bulan bisa hafal Al-Qurán 30 juz. Demikian kiyai alumni Lirboyo Kediri tersebut menegaskan. 

KH M Muslich dan guru-guru MA Diponegoro

Sri Indah MPd, salah satu peserta sosialisasi menuturkan Tarjim Al-Qurán sangat baik. Berikutnya berharap ada tindak lanjut pelatihan untuk guru sehingga bisa mengajarkan kepada murid-murid di madrasah. Sementara itu, Zaidun Lc MHum akan menerapkan Tarjim Al-Qurán untuk murid-murid di MA Diponegoro agar santri-santri menjadi kader Quráni yang handal. Kami bersyukur bisa bertemu langsung dengan ahlinya bapak Kiyai M Muslich dan membawakan kepada kami ilmunya Sunan Bonang. (Ozan)