Refleksi HSN 2022; Kepemimpinan Santri Solusi bagi Bangsa yang Adil dan Sejahtera

- Penulis

Jumat, 28 Oktober 2022 - 22:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Malam Ahad di penghujung Tahun 2020, Kami berkesempatan sowan  KH Mashudi  Wajak Malang, Beliau  salah satu murid Hadratus Syeh  Hasyim As’ary yang masih sugeng di Era melenial ini. Dalam kesempatan sowan kami  itu mengalir seperti biasa layaknya santri sowan pada gurunya.

Namun  yang membuat terkesimak dengan beliau  adalah penyampaian beliau tentang perjalanan beliau ketika nderekaken Hadratus Syaikh  ketika lawatan ke beberapa negara. Disela sela cerita , beliau memberikan nasehat kepada kami yg langsung beliau dengar dari Hadratus syaikh:

Gus niki sampean cepengi sak sampunipun kemerdekaan samangke perjuangan poro kyai niku dos pundi waget ndadosaken penerus perjuangan  pendahulunipun kanti dos pundi, generasi samangke dados penerus ingkang sholeh sholihah lan tetap nyebaraken kedamaian wonten telatah nuswantoro niki“.

Artinya, “Gus hal ini kamu pegang, setelah kemerdekaan itu perjuangan para kyai adalah bagaimana mencetak generasi penerus perjuangan ini. Bagaimana generasi ini menjadi generasi yang sholeh sholehah dan selalu menyebar kedamaian antar sesama di bumi nusantara”.

Inilah wejangan yang kami dapat dari seorang murid Hadratus Syeh Mbah Yai Hasyim As’ary.

Dalam memperingati Hari Santri Nasional (HSN) di Oktober 2022, penulis selalu teringat dengan cerita panjang kyai Mashudi. Bagaimana para pejuang dahulu dibawah komando Hadratus Syeh luar biasa perjuanganya untuk mempertahankan negara yang baru saja merdeka.

Baca Juga :  Pergunu Sorot Permasalahan SNBP yang Menimpa Siswa: Sekolah Perlu Bentuk Satgas

Artinya sebelum kemerdekaan sampai paruh awal kemerdekaan begitu pentingnya dan begitu diperhitungkannya para kyai dan kaum santri saat itu. Bahkan para kiya yang memimpin arah mau dikemanakan bangsa ini tidak lepas dari tangan dingin para kyai saat itu.

Buktinya seorang presiden, Soekarno meminta fatwa Hadratus Syaikh tentang bagaimana hukumnya bela negara, hingga munculnya Resolusi Jihad pada tangal 22 Oktober 1945 yang betapa dahsatnya bagi usaha mempertahankan kemerdekaan bangsa.

Perjuangan para kyai dan kaum santri terasa hingga kini, dengan harapan agar para generasi penerusnya mendapatkan kemerdekaan yang seutuhnya dan menikmati kehidupan yang sejahtera di negaranya sendiri. Namun apa yang didapatkan kaum santri (sarungan) setelah kemerdekaan bangsa ini bisa di pertahankan sehingga saat ini yang bisa dikata hampir 77 tahun kaum santri merdeka, apa yang santri dapatkan saat ini?

Hampir dimasa Soekarno sampai penguasa orde baru hingga sampai masa reformasi kaum sarungan (santri) tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menjadi nahkoda utama dinegeri ini.

Pernah sosok dari kaum santri menjadi nahkoda utama negri ini yaitu Presiden Abdurrahman Wahid. Namun belum juga beliau menjalankan tugas-tugasnya dengan optimal beliau sudah dilengserkan, hingga sampai saat ini kaum santri hanya di posisikan sebagai second line.

Sementara negeri ini akan terus menerus seperti ini dalam pengertian jauh dari keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, bagaimana cita cita luhur itu akan terealisikan di negeri ini, sementara oligarki kekuasaan mencengkram kuat pada pengendali negeri, baik dalam lembaga eksekutif, legeslatif pun yudikatif.

Baca Juga :  Roadshow: Seminar dan Diskusi Buku “Santri Indonesia di Tiongkok”

Oleh karenanya momentum HSN diperingati juga bersamaan dengan peringatan 1 abadnya NU sekaligus sebagai wadah pergerakan kaum sarungan, santri harus berani lagi untuk memegang kendali kepemimpinan nasional. Perjuangan ini hanya bisa dilakukan melalui peran kaum sarungan melalui sayap sayap politik NU.

Maka penting kiranya NU saat ini harus bisa mensinergikan sayap politik NU untuk mendorong munculnya tokoh nomer satu di negeri ini dari kaum sarungan (santri), sebab kalo tidak sekarang mau kapan lagi?

Dan jangan berharap akan adanya pemberian dalam soal kepemimpinan nasional ini. Hal ini butuh sebuah usaha keras kaum sarungan (santri) untuk mewujudkan cita-cita luhur para pendahulu. Dalam hal ini adalah masyarakat yang agamis nasionalis yang menjaga persatuan kesatuan negeri ini yang mampu menjamin kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyatnya.

Oleh: KH Fahmi Basya Lc.
Khodimu Al-Ma’had Pondok Pesantren Al Falahiyyah Mlangi Sleman DIY

Berita Terkait

Garda Pendidik Maju: UMP-P, Sertifikasi Pengabdian, dan Mandat Profesi di RUU Sisdiknas
Menapaki Jalan Ilmu dan Adab: Kisah Tumbuhnya Ponpes Pangeran Diponegoro di Era Modern
LTM PWNU DIY Belajar Pengelolaan Masjid Modern di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo
PWNU DIY Serukan Perdamaian dan Doa Bersama Untuk Indonesia Damai
Nahnu TV, Media Resmi PWNU DIY untuk Menguatkan Dakwah dan Informasi Umat
Mancakrida IV: Menyulut Jiwa Tangguh dan Kreatif di Alam Terbuka
Dari Kelas ke Lapangan: SMK Diponegoro Depok Wujudkan Ilmu Jadi Aksi Nyata
Temu Pendidik Nusantara XII di Sleman: Pendidikan sebagai Kunci Mitigasi Krisis Iklim
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 25 Desember 2025 - 07:17 WIB

Garda Pendidik Maju: UMP-P, Sertifikasi Pengabdian, dan Mandat Profesi di RUU Sisdiknas

Senin, 17 November 2025 - 07:45 WIB

Menapaki Jalan Ilmu dan Adab: Kisah Tumbuhnya Ponpes Pangeran Diponegoro di Era Modern

Selasa, 2 September 2025 - 14:50 WIB

PWNU DIY Serukan Perdamaian dan Doa Bersama Untuk Indonesia Damai

Selasa, 19 Agustus 2025 - 12:55 WIB

Nahnu TV, Media Resmi PWNU DIY untuk Menguatkan Dakwah dan Informasi Umat

Rabu, 23 Juli 2025 - 21:17 WIB

Mancakrida IV: Menyulut Jiwa Tangguh dan Kreatif di Alam Terbuka

Berita Terbaru