Anak Zaman Sekarang

Outing Learning
Outing Learning

PERGUNU DIY Turi– Saat itu aku akan mendampingi beberapa anak dalam sebuah lomba. Aku datang lebih awal dari mereka karena harus registrasi ulang terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan menuju lokasi lomba aku memang sudah sedikit tegang. Lagipula yang lomba siapa yang grogi siapa? Biasa sajalah, bathinku. Hanya sedikit tegang dan grogi karena belum hafal jalan menuju lokasi lomba saja. Tak lebih. Dengan stamina baja dan tenaga super hasil sarapan telur mata sapi buatan ibuku, aku segera tancap gas menuju lokasi. Bukan berbekal peta atau maps aku memulai perjalanku, tapi berbekal arahan ibuku yang sedikit kucerna di otakku. Tentu saja membayangkan nama-nama jalan yang hampir tak ku kenal itu rasanya sangat membingungkan.

Coba kalau nama-nama jalan atau daerah yang kutuju itu merupakan nama-nama buah atau makanan, bisa jadi akan mudah kuingat! Ah, bingung aku jadinya.  Rasanya jadi kepingin makan bakso atau minum es campur supaya hilang rasa “bingung” ku itu. Oops! Apa hubungannya ya? Yaaaa hubungkan sendiri sajalah, tak usah dibuat bingung, nanti kau juga akan kepingin makan bakso atau es buah jadinya. Hayooo….

Akhirnya aku sampai di lokasi lomba dengan selamat, tak kurang satu apapun, bahkan sehelai rambutku pun tidak, aku kan pakai helm! Sesampainya di sana aku segera menuju tempat registrasi ulang. Uh, ramainya…..mirip-mirip ramainya pasar ikan gitu deh.

Jam sudah menunjukkan pukul 7.20 WIB rombongan peserta yang ku tunggu-tunggu belum datang juga. Ya sudahlah, aku daftarkan dulu mereka barangkali aku “kecipratan” snacknya. Duh, baru juga datang sudah berharap yang bukan-bukan ya aku ini!

Benar saja, Sembilan snack dalam paperbag kini berada di tanganku. Tapi, tak satu pun untukku. Uh, mirisnya hati ini. Seperti saat mengupas dan memotong apel, eh bawang merah maksudku. Tak apalah, ikhlaskan saja, lagipula itu kan makanan anak-anak, masih saja ingin merasakan!

Kulihat jam di tanganku sudah menunjukkan hampit pukul 8 tepat. Aku mulai agak gelisah. Sekali lagi bukan karena grogi, atau karena kebiasaan orang Indonesia yang kebanyakan tidak tepat waktu. Tapi karena perut ini mulai bersenandung. Sarapanku tadi ternyata hanya cukup untuk diperjalanan. Apalagi sekarang di depanku ini banyak stand-stand bazaar yang mulai buka. Beberapa stand menjual pakaian dan aksesoris, selebihnya (Sssssst, selebihnya ini banyak sekali lho!) menjual berbagai macam makanan ringan, makanan berat, dan minuman.

Ingiiiiiin sekali rasanya “jajan”. Tapi kan acaranya saja belum mulai, masa’ sudah jajan sih. Jajan, sendirian, seperti anak hilang, tak ada teman, oooh….kasihan.

Tak lama kemudian kulihat anak-anak turun dari mobil sekolah dan berjalan menuju tempatku menunggu mereka. Satu lagi temanku yang juga mendampingi lomba ini datang, jadi sekarang aku tak sendirian kalau ingin jajan. Oops! Ketahuan deh.

Kami segera menempatkan anak-anak menuju tempat duduk sesuai lombanya. Di sela-sela pembukaan lomba aku mencoba mencairkan suasana dengan sedikit memulai berbincang dengan Faisal. “Kok snacknya nggak dimakan?” tanyaku dengan percaya diri yang melambung tinggi melebihi tingginya tiang bendera. Ditambah senyumanku yang manis tiada tara (maaf, terpaksa jujur karena aku sering mendapati semut di mukaku terutama saat aku duduk-duduk atau melintas di bawah pohon). Tak lama aku segera mendengar jawabannya. Ia hanya mengernyitkan wajah sambil berkata:

“Chik* semua! Aku bisa makan lebih banyak makanan buatan ibu dirumah.”

Duh, rasanya kaki di kepala, kepala di kaki. Bagaimana itu rasanya ya teman-teman? Aku yang daritadi tergiur ingin juga merasakan snack itu jadi tak nafsu sama sekali. Malu, dikalahkan anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 4. Ia saja bisa bicara seperti itu, tahu kalau snack-snack itu tidak baik untuk dikonsumsi karena kandungan bahan pembuatannya. Kok aku bisa-bisanya malah ingin sekali melahap semua snack itu tadi ya. Hebat! Dan salut. Juga pada orang tuanya yang telah mengajarkannya.

Pantas saja prestasinya selalu cemerlang. Anak zaman sekarang memang tak terduga ya! Banyak macamnya. Yang pasti jangan macam-macam untuk anak-anak. Okey!

Penulis : Dewi Nirwana