Ilmu Sosial Profetik dan Social Capital sebagai Pondasi Bagi Peradaban Islam Modern

Bagian 4/4

Prof. Saefur Rochmat, S.Pd., MIR., Ph.D., berkopyak coklat susu dkk
Prof. Saefur Rochmat, S.Pd., MIR., Ph.D., (berkopyak coklat susu) dkk

Pergunu DIY –Kasihan– Ilmu Sosial Prefetis sebagai Third Way. Al-Qur’an sebagai wahyu terakhir bagi umat manusia mengindikasikan bahwa Al-Qur’an sudah lengkap karena mensintesakan thesis (Yahudi sebagai agama yang menekankan pada law (hukum)) dan anti-thesis (Nasrani sebagai agama yang menekankan pada belief (keyakinan).

Jadi, Al-Qur’an mengandung ajaran-ajaran yang bersifat universal, sebagai bentuk dari sifat Rahmah (Penyayang), dan juga mengandung ajaran-ajaran yang bersifat identitas Islam, seperti yang tercantum dalam Rukun Iman dan Rukun Islam, sebagai manifestasi dari sifat Rahim (Pengasih).

Ajaran-ajaran Islam yang bersifat universal masuk dalam kategori Rukun Sosial (Social Capital), meminjam kategorisasi dari K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Sejalan dengan sifat sintesis Islam, Islam menembangkan pendekatan integralistik dalam kehidupan. Contohnya, bila dalam aliran filsafat kita mengenal dua pandang yang ekstrim, yaitu aliran positivisme yang mengklaim kebenaran universal dan aliran eksistensialis Sorren Kiekegard yang melihat kebenaran interpretatif yang bersifat individual.

Islam mengakui kedua jenis kebenaran, tentunya pada level yang berbeda. Dengan aliran eksistensialisme, Islam mengakui hak-hak individu, sedangkan dengan aliran positivisme, Islam mengakui fenomena kehidupan sosial berdasarkan social contract.

Ide Third World bisa dilacak dari pemikiran Kuntowijoyo yang mengatakan Islam harus terbuka terhadap semua peradaban dan Islam itu bukan Timur dan bukan Barat (Kuntowijoyo, 2007: 89). Islam merupakan Third Way karena Islam tidak seperti Blok Barat (individualism), tidak pula seperti Blok Timur (communism). Islam itu Third Way: suatu pandangan yang moderat (wasathan). Pandangan Islam tidak ektrim kanan maupun ekstrim kiri.

Islam merupakan sintesis dari thesis (bahwa motor penggerak sejarah adalah ide) dan anti-thesis (bahwa motor penggerak sejarah adalah materi) (Connor, 2009: 3).

Pandangan Islam yang mengakui baik ide maupun materi merupakan pandangan yang moderat: suatu pandangan yang ingin merangkul semua pihak. Dengan demikian, Islam merupakan agama yang Rahmatan lil ‘Alamin.

Misi Islam yang Third Way tercermin dalam konsep inti Islam, yaitu wasathan yang berarti tengah, pertengahan, moderat, jalan tengah, seimbang antara dua kutub atau dua ekstrim (kanan dan kiri). Kata wasathan disebutkan sekali saja dalam Al-Qur’an, yaitu di dalam surah Al-Baqarah 143. Hal ini sungguh menakjubkan bin ajaib.

Apakah hal ini tidak mengindikasikan bahwa wasathan merupakan inti dari Al-Qur’an? Bila saudara masih kurang yakin dengan konsep wasathan (umat pertengahan) sebagai inti dari Islam (core of Islam), saudara akan terkesima bila tahu bahwa tepat di tengah-tengah Al-Qur’an terdapat kata wal yatalaththaf, yang artinya lemah lembut.

Bukankah kata lemah lembut menunjukkan suatu sikap yang tidak ekstrim ke kanan maupun ke kiri?

Berarti, kata walyatalaththof bermakna moderat. Kata walyatalaththof dalam Alquran dicetak merah untuk menandaskan sesuatu yang penting, sesuatu yang ada tepat di tengah-tengah Al-Qur’an.

Islam merupakan sintesa pemikiran yang diharapkan dapat meredakan ketegangan Blok Barat dengan Blok Timur. Perdamaian dunia hanya mungkin terwujud bila ada kerangka pemikiran besar yang bisa menyatukannya.

Dengan demikian, Third Way tidak menjadi monopoli Muslim, tapi merupakan gerakan semua umat beragama yang berkomitmen untuk mengatasi krisis peradaban modern.

Untuk itu peradaban Barat harus disuntik dengan nilai-nilai agama, yang merupakan produk dari olah hati yang menekankan prinsip harmoni dalam kehidupan.

Sejalan dengan misi Third Way,ISP hendaknya diramu dari unsur-unsur budaya asli maupun unsur-unsur budaya modern seperti yang telah dilakukan oleh Jepang. ISP hendaknya sejalan dengan kebudayaan nasional yang berdasarkan Pancasila.

Modernisasi akan berjalan cepat, seperti halnya dengan modernisasi Jepang, bila kita sudah bisa merumuskan ISP yang operasional.

Hendaknya ISP menyelaraskan unsur kebudayaan asli, seperti yang tercantum dalam sila ke-1 Pancasila dengan unsur-unsur kebudayaan modern seperti yang tercermin pada sila ke-2, 3, 4, dan 5 Pancasila.

Sila ke-1 merupakan representasi dari agama, termasuk Islam, yang hendaknya menjiwai sila-sila yang lainnya. Sejalan dengan itu, ilmu tidak hanya didasarkan pada akal saja, tetapi juga bersumber dari olah hati.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, kita patut merenungkan penilaian Purwo Santoso (2015: 12) berikut.

“Kealphaan untuk mengkaitkan ilmu sosial  dengan  reproduksi  nilai  ini  telah  menghasilkan  dampak  serius:  Pancasila yang  diletakkan  sebagai  acuan  ideologis  tidak  cukup  kuat  mewarnai  dunia keilmuan.

Di satu sisi Pancasila tereduksi menjadi slogan di sana-sini, dan pada saat yang sama insensitif terhadap berlakunya ide yang kontradiktif dengan nilai- nilai yang diusung Pancasila.”

ISP berusaha mensinergikan ilmu-ilmu hasil oleh akal dengan ilmu-ilmu hasil olah hati. Bila hal ini berhasil dilakukan oleh ISP maka kita akan bisa menjadi negara modern dalam waktu singkat dan sekaligus bisa mengatasi krisis peradaban modern.

Belum berhasilnya kita menjadi negara modern setelah 74 tahun merdeka bukan karena salahnya peradaban Barat, tapi karena kita mengekor saja ke Barat tanpa mempertimbangkan konteks Indonesia.

Kita juga mengadopsi aspek material peradaban Barat, tanpa memahami aspek immaterialnya yang menjadi fondasi bagi tegaknya dan berfungsinya lembaga-lembaga modern dalam berbagai aspek kehidupan.

Peradaban Barat yang mendasarkan pada olah akal sangat menekankan prinsip checks and balances antar lembaga. Kita pun harus memahami prinsip-prinsip ilmu modern yang berguna untuk mengatur kehidupan di dunia ini.

Saya melihat ilmu modern tidak menghasilkan nilai-nilai yang sebenarnya, hanya menghasilkan prinsip-prinsip, seperti prinsip rasionalitas, prinsip efisien, prinsip akuntabilitas, prinsip keseimbangan (checks and balances), dll.

Nilai-nilai yang sebenarnya lahir dari agama dan juga budaya, yang menghasilkan keyakinan yang sebenarnya, yaitu keyakinan kepada Allah sebagai Supreme Causal.

Saya melihat Marxisme maupun Liberalisme tidak menghasilkan keyakinan yang sebenarnya karena keduanya meyakini materi, sesuatu yang sifatnya netral karena penggunaannya tergantung pada manusia.

Aspek immaterial dalam bentuk soft technology, seperti konsep Hak Asasi Manusia, konsep toleransi, konsep ko-eksistensi, dan konsep denominasi, memang sangat penting bagi tegaknya lembaga-lembaga modern, dan semuanya itu mencerminkan “agama humanistik”.

Dalam kehidupan sosial yang kompleks, “agama humanistik” merupakan kunci bagi tegaknya peradaban modern (developed country).

ISP bukan anti-tesa terhadap peradaban Barat. Hendaknya ISP merupakan sintesa dari ilmu modern Barat dengan agama-agama, termasuk Islam. Akan tetapi, ISP bukan satu-satunya paradigma, bahkan dalam ISP mengakui berbagai macam paradigma karena Islam, sebagai teks, diterapkan dalam berbagai konteks (budaya).

ISP juga hendaknya mengakui paradigma-paradigma yang lahir dari rahim peradaban Barat. Masing-masing paradigma merupakan kebenaran inter-personal, yang hendaknya masing-masing paradigma melakukan give and take yang berguna bagi kepentingan bersama (collective consciousness) (Bellah, 1973: ix).

Masing-masing paradigma merupakan starting point saja dalam usaha memahami kehidupan sosial. Bukankah dalam suatu disiplin ilmu memungkinkan adanya berbagai macam paradigma.

Bukankah ilmu sosial modern (Barat) mengenal berbagai macam paradigma yang digunakan untuk menganalisis berbagai macam fenomena (sosial)?

Paradigma merupakan kebenaran inter-personal, sebagaimana Thomas Khun yang meyakini perkembangan ilmu melalui “kesepakatan” sekelompok ilmuwan yang mendukungnya. Kesepakatan ini mengimplikasikan bahwa hasil dari suatu paradigma bukanlah bersifat universal.

Sejalan dengan ini, saya setuju dengan Karl Propper yang percaya bahwa ilmu berkembang melalui proses “falsifikasi”, yang melibatkan aktivitas akal yang logis.

Suatu paradigma akan dihadapkan kepada proses falsifikasi bila dihadapkan dengan paradigma yang lain. Mereka akan melakukan proses give and take dalam rangka melakukan modifikasi terhadap paradigma tersebut.

Modifikasi dilakukan untuk menghindari terjadinya krisis paradigma. Modifikasi paradigma bisa juga  mengarah ke dalam bentuk revolusi paradigma.

ISP hendaknya diposisikan seperti Islam maupun Pancasila yamg perlu mengembangkan pendekatan integratif. Pendekatan integralistik ini sejalan dengan sifat Islam yang sintesis.

Bukankah konsep umat juga memiliki makna yang bisa luas maupun sempit tergantung dari konteks berlangsungnya istilah umat?

Pendekatan integratif ini digunakan oleh Abdurrahman Wahid dalam proyeknya pribumisasi Islam. Pendekatan integratif merupakan cara untuk memaknai konteks berdasarkan teks dan juga memaknai yang aktivitas yang nampaknya sekuler dengan keyakinan agama yang mengakui kehadiran Tuhan.

Abdurrahman Wahid menjalani kehidupan dengan fiqh, yang berarti paham. Umat beragama harus paham apa yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari (Wahid, 1999).

Bila mereka tidak bisa memaknai kehidupan sehari-hari berdasarkan perspektif agamanya, mereka termasuk orang-orang yang pragmatis atau orang-orang munafik, yang tidak sinkron antara yang dilakukan dengan keyakinannya atau menjalani aktivitas tanpa keyakinan agamanya.

Berdasarkan pendekatan integralistik, saya melihat paradigma sebagai  merupakan starting point bagi kegiatan intelektual (analisa dan sintesa) dan karenanya kita jangan memperlakukan masing-masing sebagai suatu ideologi (Vertigans, 2007: 303).

Dengan demikian, kita perlu mempertimbangkan konsep “Islamisasi ilmu”, “Obyektivikasi Islam”, maupun “Integrasi Ilmu dan Islam”.

Ingat, Islam memiliki karakter sintesa dan karenanya pendekatan integralistik harus dikembangkan dalam menyusun bangunan ilmu pengetahuan yang kaffah. Dengan bangunan ilmu pengetahuan yang kaffah akan tercipta peradaban yang kaffah (yang nir-kekerasan) atau peradaban Islam (salam, damai).]

Peradaban yang kaffah tidak hanya mengembangkan “akal” saja dalam merumuskan kebenaran, tapi juga mengembangkan olah hati dalam perumusan ilmu pengetahuan.

Untuk itu, konsep “kebenaran ganda” (double truth), sebagaimana dikembangkan oleh sarjana Islam klasik seperi Ibn Rush dan Ibn Arabi (Tibi, 2009: 69), perlu dikembangkan dalam merumuskan bangunan ISP.

Konsep kebenaan ganda mendasari dikembangkannnya ide “Integrasi Islam” (dengan Ilmu), karena sesuatu yang sifatnya duniawi (sekuler) bisa merupakan manifestasi dari yang religius (sakral).

Contohnya, uang (yang sifatnya sekuler) merupakan alat untuk sesuatu yang religius, seperti untuk shodaqah, zakat, dll.

Kesimpulan

Ilmu sosial Profetik (ISP) Kuntowijoyo merupakan salah satu bentuk ilmu-ilmu sosial alternatif. Sebagai gejala post-modernisme, ISP kritis terhadap ilmu-ilmu sosial positivis dan cenderung anti-positivis.

Hal itu bisa dipahami berdasarkan latar belakang kelahirannya yang kecewa terhadap kegagalan modernisasi di dunia ketiga.

Bahkan, Islam ditawarkan sebagai ideologi alternatif setelah keberhasilan Revolusi Islam Iran tahun 1979 yang berhasil menggulingkan Raja Shah Pahlevi yang didukung oleh Barat. Saat inilah Muslim mendeklarasikan abad ke-15 H sebagai abad kebangkitan Islam.

Keyakinan terhadap Islam sebagai ideologi alternatif semakin mantap setelah runtuhnya Tembok Berlin 1989, yang merupakan simbol komunisme.

Abad kebangkitan Islam tidak kunjung tiba, bahkan semakin jauh panggang dari api, karena sekarang ini kita menyaksikan negara-negara Islam terlibat dalam konflik dan bahkan sampai perang saudara.

Kegagalan kebangkitan Islam bisa dipahami karena Muslim belum mengembangkan pemikiran besar yang akan memberi landasan bagi kebangkitan Islam.

Kesuksesan peradaban Barat meraih developed countries didukung oleh kemampuannya menciptakan konteks bagi modernisasi, yang berupa soft technology, yang merupakan aspek immaterial kebudayaan.

Kegagalan Islam mewujudkan kebangkitan Islam, dalam bentuk developed countries, tidak bisa menyalahkan begitu saja peradaban Barat. Hal itu karena ilmu-ilmu sosial positivis yang dikembangkannya terbukti bisa mengantarkan peradaban Barat meraih developed countries.

Jangan-jangan kita yang belum melakukan modernisasi model Barat secara benar! Kita cenderung mengadopsi aspek material peradaban Barat, seperti lembaga-lembaga negara, lembaga pendidikan modern; dan melupakan aspek immaterial peradaban Barat yang memungkinkan semua kelembagaan tersebut bisa berjalan secara efektif.

Peradaban Barat mengembangkan prinsip checks and balances dan didukung dengan kemampuannya menciptakan collective consciousness atas dasar social contract dalam bentuk kesepakatan-kesepakan dan hukum-hukum positif.

Bukankah sistem pendidikan kita, sampai sekarang, belum bisa menciptakan manusia-manusia modern, yang bersikap kritis, logis, sistematis, dan mampu melakukan kegiatan analisis sintesis. Jadi wajar bila kita belum bisa menjadi negara modern (a developed country).

Padahal gagasan Islam sebagai alternatif peradaban Barat sudah dideklarasikan setelah Revolusi Islam Iran 1979. Hal itu menunjukkan ada yang salah dalam gagasan ilmu sosial alternatif, termasuk ISP, yakni mereka anti-terhadap Barat.

Bukankah Iran tidak bisa survive bila tidak memainkan politik divide et imperra antara Blok Barat melawan Blok Timur. Agar bisa menjadi Blok Islam, Iran harus mengembangkan teknologi modern, yang output-nya adalah materi.

Ilmu-ilmu sosial sekuler juga tetap diperlukan karena membangun peradaban bukan tugas satu umat saja, tapi merupakan tugas umat dalam pengertian ummatan wahidah. Dengan demikian ilmu-ilmu sosial sekuler yang menyediakan fakta-fakta merupakan perangkat keras bagi bangunan ilmu-ilmu sosial alternatif.

Ilmu sosial alternatif, seperti halnya dengan paradigma-paradigma yang lain merupakan suatu upaya pemberian makna terhadap fenomena.

Dengan demikian, kebenaran dari paradigma bersifat inter-personal bagi komunitasnya masing-masing; namun dalam kehidupan sosial yang kompleks mereka harus mendasarkan pada produk dari ilmu sosial positivis.

Selama ini ISP masih belum serius menangani gejala fenomena dalam kaitannya dengan neumena, sehingga body of knowledge dari ISP masih belum berhasil disusun.

ISP hendaknya diarahkan kepada ide Third Way, selaras dengan sifat Islam yang sintesis, yang menjunjung tinggi pendekatan integralistik.

Dengan demikian, ISP diharapkan bisa menghantarkan Muslim meraih developed countries secara cepat dan sekaligus bisa mengatasi krisis peradaban modern. (Bagian ke-4 dari 4 seri)

Penulis: Prof. Saefur Rochmat, S.Pd., MIR, Ph.D