Guru dari Berbagai Disiplin Ilmu Bersiap Lahirkan MA Baru

Drs KH Muhammad Syakir Ali MSi memberikan arahan panitia

Pergunu DIY –PACET– Seribu langkah besar dimulai dari satu langkah kecil. Siti Fathonah S2 pendidikan Biologi, Ahmad Ihsanuddin S2 pendidikan Islam, Sri Indah S2 pendidikan agama Islam, Zaidun S2 Al-Qur’an-Hadis, Rofiq Anwar S2 magister bisnis administrasi, dan Fauzan Satyanegara S2 pemikiran pendidikan Islam ditugasi lembaga menjadi panitia pendirian Madrasah Aliyah (MA). Dua langkah dari tiga langkah pendirian madrasah yang diminta pemerintah telah diselesaikan. Syarat administrasi dan syarat teknis telah disiapkan. Panitia masih punya cukup waktu. Target berikutnya pemenuhan syarat kelayakan.    

Tidaklah benar bergandengan mengacau datangnya peluang. Ranjau-ranjau kecil sisa peninggalan Hindia Belanda wajib kita jinakkan jika bisa kubur dalam-dalam. Benar Raden Ontowiryo telah tiada. Pada 1855 panglima Perang Jawa tersebut telah meninggalkan kita semua. Namun perjuangannya tidaklah pernah mati. Spirit Pangeran Diponegoro terus hidup. Gagal bekerja sama tidak lain adalah prestasi kolonial. Kesaktian Diponegoro kita lanjutkan. Tentunya kita mampu bergandengan memaksimalkan peran-peran kelembagaan.

Masa depan memang jauh di mata. Namun sedari dini kita bisa mengambil untung. Caranya sudah kita pegang. Lembaga baru bukanlah beban namun kendaraan perjuangan di era 4.0. Kita perlu membaca kebutuhan zaman. Mengisi kemerdekaan dizaman melinial di bidang pendidikan sama pentingnya perjuangan Diponegoro kala itu dalam berperang melumpuhkan kejahatan kolonial. Kebodohan dan kemiskinan musuh bersama. MA didirikan untuk memperluas ketersediaan layanan pendidikan berkualitas. MA memastikan masyarakat mendapatkan haknya.

Kedua kali panitia bersilaturahmi dan konsultasi pak kiyai, Drs KH Muhammad Syakir Ali MSi. Program perencanaan kita laporkan. Tahapan kegiatan kita sampaikan. Bangunan setengah jadi pendirian MA Diponegoro siap dibedah. Sebagian mendapatkan apresiasi dan selebihnya harus diganti dan harus direvisi. Panitia harus merelakan sekian pemikiran dan target program untuk ditangguhkan. Keliru membaca saran sebab awal kegagalan. Dawuh kiyai perlu dimaknai dan diyakini. Tim panitia mendapati modal penting pak kiyai di forum kecil ini.

Alhamdulillah urusan administratif pendirian MA telah selesai. Persyaratan teknis rampung digarap. Bangunan setengah jadi Madrasah Aliyah Diponegoro telah mendapati arahan dan pembenahan. Satu lagi syarat kelayakan dalam proses pemenuhan. Panitia mulai bergerak dilevel urusan eksternal. Diponegoro-diponegoro muda terus bekerja meninggikan perjuangan. Perangkat lunak telah didesain dan disempurnakan pak kiyai. Infrastruktur memang belum punya. Namun jangan kawatir dengan bersama kita bisa.

Tidak lama lagi bayi MA akan lahir. Tanggalnya belum ditemukan. Namun usaha-usaha panitia telah direstui. Tanggal hari launching telah ditulis. Publikasinya menunggu waktu yang tepat untuk diundangkan. Tanggal 22 Oktober 2021 Jumat harinya di Rumah Kampung Kadisoka kali pertama panitia menerima tugas mulia nan berat. Perbedaan di mana-mana, namun kita punya akal untuk menempatkannya. Kesulitan di depan mata, namun berjamaah menjaminnya. Dahulu kala  Universitas Islam Indonesia (UII) kecil sekarang mendunia. Mbah Hasyim merestui siapapun yang menjadi santrinya. Ayo bekerja kita BISA! bj