Langkah Pasti Hadapi Pandemi melalui Usaha Mandiri

A Habibur Rahman
Abdaul Habibur Rahman

Pergunu DIY –Depok-   Abdaul Habibur Rahman (Habib), alumnus Universitas Islam Indonesia (UII), menjadi wirasuahawan startup dibidang peternakan penggemukan dan pembibitan kambing.

Ini merupakan platform transformasi bisnis petani muda dibidang peternakan teruntuk mendukung ketahanan pangan masyarakat.

Saat ini, Habib memiliki tiga ekor kambing gembel, satu pejantan dan dua betina. Ukuran panjang kandang 6 meter dan lebarnya 1,7 meter. Kapasitas kandang 16 ekor kambing yang dibuat awal puasa tersebut target  berikutnya bisa penuh.

Lulusan perguruan tinggi Islam tertua ini mengambil inisiasi usaha peternakan lantaran prinsip peluang kekinian dan kemandirian. “Pandemi bukan invasi namun menguji eksistensi. Wabah corona lama-lama dengan sendirinya akan sirna”, kata pria muda itu optimis.  

Kambing hewan berperut banyak, memiliki sifat cerdas dan suka mencari tahu. Hewan piaraan berkaki empat tersebut memiliki perilaku pintar, dapat dipeliharan dan dibudidayakan untuk berbagai kepentingan manusia.

Di zaman Nabi Ismail as hewan bertanduk tersebut mulia keberadaanya. Diabadikan sebagai simbol keberanian, kepasarahan, penyelamatan, ketaatan dan ketauhidan. Kambing menjadi hewan sesembelihan populer di hari raya Idul Adha.

Hewan memamah biak sedari dahulu kala memberi manfaat kepada manusia, susunya, dagingnya, kulitnya, bahkan urin dan tinjanya. Komposisi gizinya lebih tinggi dari daging sapi, domba, dan ayam.

Susu hewan herbivora tersebut menjadi minuman istimewa sedari zaman nabi. Kulitnya menjadi bahan baku berbagai produk budaya; tas, sepatu, perkakas, beduk, alat musik misalnya. Urin dan tinjanya menjadi bahan dasar pupuk untuk perbaikan dan kesuburan tanah pertanian.

Di masa krisis, Nabi Muhammad menjawabnya dengan berwira usaha. Menggembala kambing sebagai bisnis starupnya. Membantu keluarga sang paman dan merintis kemandirian menjadi pemantik awalnya. Dibalik cobaan didapat peluang dan kejayaan.

Belia mudanya bekerja keras. Nabi terus menjalaninya hinga menjadi wirausahawan terkemuka berdagang kemanca negara; Bahrain, Busra, Irak, Suriah, Yaman, dan Yordania. Demikianlah panutan kita memiliki cara bagaimana menaklukkan krisis kehidupan.

Bagi Habib, krisis global corona kita terima dengan tetap waspada. Jangan menghalangi belajar pun berswadaya. Sebelum pandemi saya bekerja di bidang pariwisata. Penggemukan dan pembibitan kambing bagi saya bisnis yang baik dan menyenangkan.

Meski orang tua guru, pegawai negeri sipil (PNS) dan adik pegawai bank (BNI), Habib memilih pekerjaan wirausaha. Sarjana psikologi perkembangan kelahiran Sleman dua bersaudara ini merintis bisnis kambing juga atas restu orang tuanya. (Ozan)