Menjawab Tuduhan Feodalisme di Pesantren: Antara Adab, Keberkahan Ilmu, dan Tradisi Ulama

- Penulis

Senin, 10 Februari 2025 - 13:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam beberapa tahun terakhir, pesantren sering dituduh sebagai institusi feodal oleh pihak-pihak tertentu, terutama dari kelompok di luar Nahdlatul Ulama (NU). Tuduhan ini berangkat dari pandangan bahwa hubungan antara santri dan kiai dianggap terlalu hierarkis, seolah-olah menempatkan kiai sebagai penguasa dan santri sebagai bawahan.

Padahal, jika kita melihat lebih dalam, penghormatan kepada kiai dalam pesantren bukanlah bentuk feodalisme, melainkan bagian dari adab dalam menuntut ilmu serta pencarian keberkahan, sebagaimana telah diajarkan dalam Al-Qur’an, hadis, serta kitab-kitab klasik seperti Ta’lim al-Muta’allim.

Adab dan Keberkahan Ilmu dalam Kitab Ta’lim al-Muta’allim

Kitab Ta’lim al-Muta’allim karya Imam Az-Zarnuji merupakan salah satu referensi utama yang digunakan dalam pesantren untuk mengajarkan etika menuntut ilmu. Kitab ini menekankan bahwa ilmu tidak hanya diperoleh melalui kecerdasan, tetapi juga melalui adab kepada guru dan keberkahan dari mereka.

Salah satu ungkapan terkenal dalam kitab ini adalah:

من لم يوقر العلماء حرم بركة العلم
“Barang siapa yang tidak menghormati ulama, ia akan diharamkan dari keberkahan ilmu.”

Dalam konteks pesantren, santri menghormati kiai bukan karena sistem feodal, melainkan karena mereka meyakini bahwa ilmu harus diperoleh dengan adab agar membawa manfaat dan keberkahan. Ini bukan hanya konsep lokal pesantren, tetapi juga telah menjadi tradisi keilmuan Islam sejak zaman sahabat dan ulama besar.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis tentang Penghormatan kepada Guru

Penghormatan kepada guru memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan hadis. Berikut beberapa dalil yang menunjukkan pentingnya sikap ini dalam Islam:

1. QS. Al-Mujadilah: 11

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Ayat ini menunjukkan bahwa para ulama dan guru memiliki kedudukan tinggi, sehingga penghormatan kepada mereka adalah bagian dari ajaran Islam.

2. QS. Al-Kahfi: 66 (Kisah Nabi Musa dan Khidir)

قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًۭا
“Musa berkata kepadanya (Khidir), ‘Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar dari apa yang telah diajarkan kepadamu?'”

Dalam ayat ini, meskipun Nabi Musa adalah seorang Rasul, ia tetap meminta izin dengan penuh hormat sebelum belajar dari Nabi Khidir. Ini menunjukkan bahwa menghormati guru adalah tradisi yang telah ada sejak zaman para Nabi.

Baca Juga :  Tuduhan Feodalisme di Pesantren: Memahami Akar dan Menanggapi Isu yang Beredar

3. Hadis Nabi ﷺ

  • ليس منا من لم يرحم صغيرنا، ويوقر كبيرنا، ويعرف لعالمنا حقه (HR. Ahmad)
  • “Bukan dari golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda, tidak menghormati yang lebih tua, dan tidak mengetahui hak ulama kita.”
  • من علمني حرفًا كنت له عبدًا (Riwayat Abu Hurairah)
  • “Barang siapa yang mengajarkan kepadaku satu huruf, maka aku menjadi hambanya.”

Hadis-hadis ini menunjukkan betapa pentingnya menghormati guru dalam Islam. Jika penghormatan kepada guru dianggap feodalisme, maka para sahabat dan ulama besar juga harus dituduh feodal, padahal mereka justru adalah teladan bagi umat Islam.

Kisah Ulama Besar tentang Adab kepada Guru

1. Imam Syafi’i dengan Imam Malik

Imam Syafi’i sangat menghormati gurunya, Imam Malik. Dikisahkan bahwa saat membuka kitab di hadapan Imam Malik, Imam Syafi’i melakukannya dengan sangat lembut agar tidak mengganggu beliau. Ia berkata:

“Aku tidak pernah membuka kitab di hadapan Imam Malik kecuali dengan perlahan-lahan karena rasa hormatku kepadanya.”

Ini menunjukkan bahwa adab kepada guru bukan hanya tradisi pesantren, tetapi juga bagian dari etika keilmuan Islam.

2. Imam Ahmad bin Hanbal dengan Imam Syafi’i

Imam Ahmad bin Hanbal, meskipun menjadi pendiri madzhab Hanbali, tetap sangat menghormati Imam Syafi’i. Ia berkata:

“Setiap kali aku berdoa, aku selalu mendoakan Imam Syafi’i terlebih dahulu, karena keberkahan ilmu yang aku dapat darinya.”

3. Ibnu Abbas terhadap Sayyidina Zaid bin Tsabit

Suatu hari, ketika Sayyidina Zaid hendak naik ke kendaraannya, Ibnu Abbas bergegas memegang tali kendali hewan tunggangan gurunya sebagai bentuk penghormatan. Ketika Zaid merasa tidak enak dan meminta Ibnu Abbas berhenti, Ibnu Abbas menjawab:

“Beginilah cara kami memuliakan ulama dan orang-orang besar kami.”

Jika penghormatan seperti ini dianggap feodal, maka para sahabat sendiri pun bisa disebut feodal, padahal mereka adalah generasi terbaik umat Islam.

Baca Juga :  Ketua PWNU DIY Senang Pergunu Miliki Keberanian

Menjawab Tuduhan: Mengapa Pihak Non-NU Menyerang Tradisi Pesantren?

Serangan terhadap pesantren dengan tuduhan feodalisme umumnya berasal dari kelompok di luar NU yang tidak memahami tradisi keilmuan pesantren. Ada beberapa alasan mengapa mereka menyerang:

  1. Ketidaktahuan tentang Adab dalam Menuntut Ilmu
    • Mereka menganggap penghormatan sebagai bentuk ketundukan, padahal dalam Islam, adab adalah bagian dari keberhasilan dalam mencari ilmu.
  2. Ingin Melemahkan Otoritas Ulama NU
    • NU memiliki peran besar dalam membimbing umat Islam di Indonesia. Dengan menyerang tradisi pesantren, mereka berharap dapat mengurangi kepercayaan umat terhadap ulama NU.
  3. Mengusung Gagasan Kesetaraan yang Keliru
    • Mereka menganggap bahwa semua orang harus diperlakukan sama dalam hal keilmuan, padahal dalam Islam, penghormatan kepada ulama adalah keharusan.

Mengapa Santri NU Harus Tetap Memegang Tradisi?

Dari dalil, hadis, serta kisah para ulama, jelas bahwa penghormatan kepada guru bukanlah feodalisme, tetapi bagian dari nilai Islam. Tuduhan ini hanyalah propaganda dari pihak yang tidak memahami tradisi keilmuan Islam.

Santri NU seharusnya tidak terpengaruh oleh narasi yang mencoba melemahkan pesantren. Justru, mereka harus semakin yakin bahwa adab kepada guru adalah kunci keberkahan ilmu—sebagaimana diajarkan dalam Ta’lim al-Muta’allim dan diamalkan oleh para sahabat serta ulama besar.

Pesantren bukanlah sistem feodal, tetapi tempat lahirnya ilmu yang penuh dengan keberkahan dan kemuliaan adab.

Ahmad Faozi, S.Psi., M.Pd.

Berita Terkait

Garda Pendidik Maju: UMP-P, Sertifikasi Pengabdian, dan Mandat Profesi di RUU Sisdiknas
Menapaki Jalan Ilmu dan Adab: Kisah Tumbuhnya Ponpes Pangeran Diponegoro di Era Modern
LTM PWNU DIY Belajar Pengelolaan Masjid Modern di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo
PWNU DIY Serukan Perdamaian dan Doa Bersama Untuk Indonesia Damai
Nahnu TV, Media Resmi PWNU DIY untuk Menguatkan Dakwah dan Informasi Umat
Mancakrida IV: Menyulut Jiwa Tangguh dan Kreatif di Alam Terbuka
Dari Kelas ke Lapangan: SMK Diponegoro Depok Wujudkan Ilmu Jadi Aksi Nyata
Temu Pendidik Nusantara XII di Sleman: Pendidikan sebagai Kunci Mitigasi Krisis Iklim
Berita ini 131 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 25 Desember 2025 - 07:17 WIB

Garda Pendidik Maju: UMP-P, Sertifikasi Pengabdian, dan Mandat Profesi di RUU Sisdiknas

Senin, 17 November 2025 - 07:45 WIB

Menapaki Jalan Ilmu dan Adab: Kisah Tumbuhnya Ponpes Pangeran Diponegoro di Era Modern

Selasa, 2 September 2025 - 14:50 WIB

PWNU DIY Serukan Perdamaian dan Doa Bersama Untuk Indonesia Damai

Selasa, 19 Agustus 2025 - 12:55 WIB

Nahnu TV, Media Resmi PWNU DIY untuk Menguatkan Dakwah dan Informasi Umat

Rabu, 23 Juli 2025 - 21:17 WIB

Mancakrida IV: Menyulut Jiwa Tangguh dan Kreatif di Alam Terbuka

Berita Terbaru