YOGYAKARTA, PERGUNU DIY – Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PW Pergunu) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) resmi dilantik di Gedung DPD RI Yogyakarta (5/7/2026). Momentum khidmat ini tidak hanya menjadi awal estafet kepengurusan baru, tetapi juga menjadi ruang refleksi ideologis mengenai peran strategis guru dan pesantren dalam menjaga sanad perjuangan bangsa serta merawat masa depan Jam’iyah Nahdlatul Ulama.
Ketua PW Pergunu DIY, Fauzan SPd I MAg, dalam sambutan perdananya menegaskan komitmen kuat segenap pengurus untuk bergerak progresif. Ia menyatakan bahwa Pergunu DIY memikul tanggung jawab besar untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia di dunia pendidikan.
“Pergunu DIY siap berkontribusi aktif dalam dunia pendidikan dan kami siap bersinergi dengan semua pihak untuk memajukan kualitas pendidikan di Yogyakarta,” ujar Fauzan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Harapan besar juga disampaikan oleh Sekretaris PWNU DIY, Dr Muhajir. Ia menekankan bahwa hal terpenting dalam pelantikan bukanlah sekadar ucapan selamat, melainkan untaian doa agar kepengurusan ini berjalan istiqomah.
“Semoga para pengurus Pergunu istiqomah sampai akhir masa khidmat secara full team, dan semoga Pergunu dapat berkontribusi dengan baik,” tutur Dr Muhajir.
Lebih lanjut, Dr Muhajir mengingatkan kedudukan mulia seorang pendidik sekaligus keistimewaan Pergunu di dalam struktur NU. Menurutnya, guru adalah induk dari segala profesi yang ada saat ini.
“Pergunu adalah satu-satunya badan otonom yang langsung diasuh oleh dzurriyyah muassis (keturunan pendiri) NU. Pergunu adalah masa depan NU,” tegasnya.
Pesantren, Sanad Sejarah, dan Kedaulatan Bangsa
Hadir memberikan arahan dan taujihat, Ketua Umum PP Pergunu, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim MA, memaparkan sejarah panjang keterkaitan antara guru, pesantren, dan kemerdekaan Indonesia. Kiai Asep mengingatkan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan pertama di Indonesia yang sejak zaman kolonial konsisten menjadi pusat perlawanan terhadap penjajah.
“Upaya Rasulullah dalam penghapusan perbudakan menunjukkan bahwa perbudakan sama dengan penjajahan. Di Indonesia, pusat perlawanan terhadap penjajah itu ada di pesantren,” jelas Kiai Asep.

Kiai Asep menceritakan bahwa para pemimpin pesantren terdahulu disatukan oleh idealisme yang sama hingga membentuk organisasi Nahdlatul Wathan, sebelum akhirnya NU lahir sebagai rumah besar bagi pesantren. Ia menegaskan bahwa NU didirikan dengan dua tujuan utama: penanaman paham Ahlussunnah Waljamaah dan mewujudkan Indonesia merdeka.
“Belanda dahulu cemas ketika NU didirikan, karena bisa dipastikan Indonesia akan merdeka. Pergunu harus bisa melanjutkan cita-cita mulia NU tersebut,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Asep juga mengajak seluruh hadirin untuk mendoakan kelancaran Muktamar NU yang akan datang. “Kita doakan Muktamar NU besok lancar. NU ke depan dipimpin oleh orang-orang yang takut kepada Allah,” harapnya.
Ia menambahkan bahwa Indonesia akan mencapai keadilan dan kemakmuran jika ditopang oleh empat pilar utama: pemimpin yang adil, birokrat yang adil, konglomerat yang loyal demi kesejahteraan umum, serta situasi bangsa yang kondusif.
Lima Tips Sukses Menjadi Guru ala Kiai Asep
Menutup arahannya, Prof KH Asep Saifuddin Chalim membagikan lima resep sukses bagi para pendidik Pergunu dalam menjalankan tugas mulianya:
-
Meningkatkan Kompetensi: Guru harus memiliki kemauan untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensinya.
-
Bertanggung Jawab pada Kurikulum: Guru bertanggung jawab penuh untuk mentransfer semua muatan kurikulum yang harus diajarkan kepada seluruh murid tanpa terkecuali.
-
Menjadi Teladan Moral: Guru wajib menjadi uswatun hasanah (teladan moral) bagi murid-muridnya.
-
Memiliki Kasih Sayang Orang Tua: Guru harus memandang dan menyayangi murid seperti anak kandungnya sendiri.
-
Mendoakan Murid: Guru harus selalu menyelipkan doa-doa kebaikan untuk murid-muridnya.
Pelantikan PW Pergunu DIY periode ini menjadi tonggak penting bahwa perjuangan para guru NU tidak hanya terbatas di dalam ruang kelas, melainkan mencakup pengabdian spiritual, kultural, dan kebangsaan demi mencetak generasi yang cerdas secara intelektual serta kokoh secara spiritual.
Penulis : Tibyani Mubarok
Editor : Dipadilaga












