Pagi belum sepenuhnya benderang di Depok, Sleman, ketika deretan mesin stasioner dan komputer di ruang-ruang praktik SMK Diponegoro masih terkunci rapat. Namun, di halaman sekolah, geliat kehidupan sudah dimulai lebih awal. Rabu itu, selembar agenda penting tidak menuntut para guru untuk memegang spidol atau memeriksa modul ajar. Hari itu, mereka sedang bersiap menempuh perjalanan yang mereka sebut dengan takzim: Ziarah Ikhtiar Jalur Langit.
Di gerbang depan, sebuah spanduk kecil bertuliskan target Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Pelajaran 2026/2027 terpampang. Bagi sebuah sekolah kejuruan, lembar kalender ini adalah musim pembuktian—titik di mana kerja keras promosi diuji oleh minat masyarakat. Namun, alih-alih hanya bertahan di balik meja komputer memantau grafik pendaftar, keluarga besar sekolah ini memilih melangkah keluar, menemui sejarah, dan mengetuk pintu langit.
“Ikhtiar lahiriah dan batiniah itu harus berjalan beriringan,” ungkap Kepala SMK Diponegoro Depok, Moh Afifi SThI, di sela keberangkatan. Suaranya tenang, namun menyiratkan keyakinan yang dalam. “Program peningkatan mutu dan promosi sudah kami maksimalkan. Tapi di atas semua itu, ada ruang tawakal yang tidak boleh kosong.”
Roda bus pun berputar, membelah aspal Yogyakarta menuju tiga titik pusara tokoh peradaban. Perjalanan batin ini dirancang melintasi batas tiga kabupaten, sebuah rute yang merajut benang merah perjuangan masa lalu dengan harapan masa depan.
Tujuan pertama adalah Pandak, Bantul. Di makam Syekh Baidlowi, rombongan bersila di atas tikar. Deru angin sawah berpadu dengan lantunan tahlil yang mulai mengalun serempak. Di tempat ini, para pendidik seakan diingatkan bahwa ketulusan adalah fondasi utama dari setiap lembaga yang ingin berumur panjang.
Penulis : Ris
Editor : Rumi Risang
Sumber Berita: SMK Diponegoro Depok
Halaman : 1 2 Selanjutnya











