Kurikulum Keluarga Berbasis Sekolah

Oleh Fazan Satyanegara

Murid SDN Mendapatkan perangkat KBM
Murid SDNU Mendapatkan perangkat KBM

Pergunu DIYNGAGLIK– Resiko tinggi wabah covid 19 mengancam keselamatan masyarakat. Pemerintah mengantisipasinya dengan berbagai kebijakan. Program darurat atau lock down, pembatasan sosial berskala besar (PSBB), dan PPKM atau penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Menjaga keselamatan jiwa perintah agama. Umar bin Khattab ra pernah melakukanya setrategi serupa, hifzun nufus.

Sektor publik telah dikelola pemerintah denga dinamika kebijakanya. Lalu bagaimana dengan sektor pirvat, seperti halnya diranah keluarga? Berbagai sektor terdampak langsung dan tidak langsung PPKM, termasuk di dalmnya pendidikan dan persekolahan. Tripusat pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat perlu bersinergi dan berbagi peran secara sistemik dengan memposisikan teknologi sebagai sarananya.

Satuan pendidikan sebagai agen perubahan, keluarga induk pendidikan, dan masyarakat adalah lingkungan berlangsungnya kehidupan yang nyata. Momentum PPKM menciptakan strategi pendidikan di lingkungan informal, formal, dan non formal dalam satu kesatuan yang kolaboratif.

Kurikulum hendaknya berkontribusi menciptakan perubahan bukan penderitaan ataupun beban. Survive, mencerdaskan, kreatif, dan memajukan. Semangatnya adalah hari ini harus lebih baik dari kemarin. Penyelenggaraan pendidikan dimasa PPKM harus lebih baik dari masa lock down, ataupun PSBB. Sekolah rumah membutuhkan pengelolaan. Pemaknaan kurikulum harus berkontribusi sehingga anak-anak dapat berkembang meski dalam himpitan wabah. Pendidikan hadir untuk bertahan dan menyiapkan hari esok yang lebih baik. Bersamaan kesulitan ada kemudahan (QS. 94: 6)  

Prigel, lincah atau trengginas. Petel, rajin atau giat. Bandel, kuat atau tahan banting. Prigel, petel lan bandel merupakan beberapa karaktet penting yang dapat dibentuk oleh guru, dan orang tua, di sekolah dan di rumah. Penyatuan atau kolaborasi pembelajaran sekolah dan rumah saat ini sangat setrategis dan saling menguatkan. Sekolah-rumah kunci pembelajaran dan pendidikan diera pandemi darurat covid tahun pelajaran baru.

Sarana pendididikan diera pandemi membuka mata membuka hati. Kendaraan operasional pembelajaran banyak dibantu internet dan telepon pintar. Konten pendidikan setia mengajarkan, tulus membesarkan, dan sabar mengarahkan juga mengabarkan kegembiraan yang mencakup ranah lahir dan batin. Kecerdasan bahasa, matematika, personal, sosial, musikal, spasial, kinestetik, dan natural penting diidentfikasi, ditemukan dan diimprov dengan baik.

Tips merintis kurukulum pendidikan berbasis keluarga; memberikan stimulasi dan menghargai pendapat anak. Merancang bersama agenda harian. Anak mendapatkan bimbingan membuat jadwal kegiatan mulai bagun, subuh sampai isya, tidur malam. Menempel jadwal dan pelaksanaannya. Orang tua memberikan pendampingan secukupnya. Ritme harian dipantau, peristiwa atau perubahan perilaku dicatat, hal penting menjadi data pembelajaran dan pendampingan.

Evaluasi dan penilaian. Adanya perubahan penting menjadi ukuran kurikulum. Desain evaluasai dibuat sederhana. Indikator kunci yang kongkrit dan terukur. Terlaksana atau tidak, lancar atau tidak, gampang atau sulit, menyenangkan atau atau tidak, tercapai atau tidak, menghasilkan atau tidak, misalnya. Teknik evaluasi dan penilaian dapat dilakukan bapak ibu dan anak-anak sembari makan malam ataupun sarapan.

Kegiatan life skill di rumah

Setrategi pendampingan dan pengawasan dapat dilakukan dengan penghampiran proses anak belajar atau dalam kegiatan. Kita dapat memberikan pertanyaan-pertanyaan yang konfirmatif atau motivatif. Sudah salat apa belum. Pekerjaan bapak ibu apakah yang kalian bantu. Apa materi pelajaran dari bapak ibu guru hari ini.  Apa yang kalian lakukan selama bapak ibu tidak di rumah. Apa yang yang hilang ketika tidak bertemu atau bermain dengan teman, dst.

Dimasa pandemi, ratapan atau menangisi keadaan bukan jawaban. Kedatangan corona meminta kita kesiapan perjuangan. Jika kita lemah maka kekalahan yang akan kita temukan. Namun kita punya iman dan kekuatan untuk bertahan dan memenangkan. Melalui basis pendidikan keluarga kita bangun pos-pos pertahanan dan ketangguhan. Protokol kesehatan, pendidikan, perekonomian kita laksanakan, kita usahakan, dan bersama kita perjuangkan.

Ilmu yang dipelajari atau didapat dari sekolah membantu anak mengerti hal baik dan buruk. Anak mau melakukan, mampu melaksanakan tanpa harus diperintah, pekerjaan-pekerjaan rumah misalnya. Kebutuhan sendiri dapat dipenuhi secara berdikari, mencuci baju, menyapu, mendesain kamar, menata ruang tamu dalam upaya menjaga rumah misalnya. Pemahaman waktu meningkat. Emosi berkembang, mudah menerima nasehat, tidak mudah putus asa, dapat menempatkan atau mengelola senang, sedih, marah dst. Pribadi yang prigel, petel, dan bandel mendapat tempaan dari keluarga dan sekolah secara simultan melalui pendidikan dan pendampingan keluarga dan sekolah.

Dalam darurat covid kurikulum berbasis keluarga mendukung misi besar cita-cita bangsa. Dari unit keluarga kita melahirkan generasi cerdas dan terampil, genarasi berbakti kepada orang tua, nusa, bangsa, dan agama. Geneasi insani yang mempin dunia, manusia Indonesia yang cerdas, jujur, amanah dan maslahah yang rahmatan lilalamin.

Penulis humas PW LP Ma’arif NU DIY