Mukjizat Al-Falaq Azimat Kejahatan

Oleh Fauzan, S.Pd.I, M.Ag

Membaca Al-Falaq Binazor dan Bilghoib
Membaca Al-Falaq Binazor dan Bilghoib

Pergunu DIY –Tempel– Allah memberitahu tentang waktu subuh. Pagi hari yang sangat berarti. Waktu yang istimewa bagi siapa saja. Orang tua, muda, pula anak-anak. Waktu subuh waktu didirikanya dua rekaat dalam salat lima waktu sehari semalam. Subuh pembuka awal kegiatan. Ibadah, belajar, bekerja atau mencari karunia Allah Ta’ala.

Alfalaq atau waktu subuh menandai harapan baru. Ada yang bagun lebih awal dari tidurnya dan tidak telat. Ada pula yang telat, bagun kesiangan. Maha Suci Allah pemilik waktu subuh. Berbahagialah orang yang bangun pagi. Badan, fikiran, dan hati dalam keadaan sehat nan bugar. Allah yang melindungi. Rahman-Nya untuk semua makhluk.   

Al-Falaq jumlahnya lima ayat. Sehari semalam juga ada lima salat. Kewajiban kita melaksanakanya yakni; subuh, zuhur, ashar, maghrib, dan isyak. Turunya di Mekah, sebelum Nabi Muhammad saw berhijrah ke Yasrib. Barang siapa menjaga lima waktu akan mendapatkan perlindungan dan keselamatan.

Arti Al-Falaq yakni waktu subuh. Bangun pagi buta mungkin berat. Namun itu terbaik. Malaikat mulai membagi rezeki dan mencatatnya amal kebaikan. Istimewa katunya. Beruntung bagi yang mengisi dan memanfaatkannya. Belajar di pagi hari nyaman dan mencerdaskan. Bekerja, berolahraga dipagi hari menyenangkan, menyehatkan dan memberi beragam keuntungan.

Al-Qur’an mukjizat sepanjang zaman. Membaca dan menghafal QS Al-Falaq menjadi kebaikan. Mengamalkanya menjadi ibadah dan penyelamat. Barang siapa membacanya tujuh kali setelah Jum’atan bersama dengan surat Fatihah, Al-Ikhlas, An-Nas Allah Ta’ala akan melindungi bagi pembaca dan mengampuni dosanya sampai Jumat berikutnya.

Syetan berduka nan sengsara jika gagal mencelakai manusia. Membaca Al-Falaq seraya memohon perlindungan kepada Allah adalah cara orang beriman menghindari pidana, kejahatan jin pun manusia. Al-Falaq bermukjizat. Membacanya dalam salat menjadi nilai plusnya. Membacanya dalam tahlilan pun berlipat ganda pahalanya.

Nabi Muhammad saw memiliki sifat ‘arud basyariah seperti manusia umumnya. Bisa sakit, sedih, dan mendapatkan gangguan pun ancaman. Pernah disantet orang jahat. Sakit, kepayahan dan terancam nyawanya. Allah Maha Penyayang. Dengan memohon pertolongan kepada-Nya berikutnya santet hilang dan Nabi sehat kembali seperti sedia kala. Allah pemberi pelindung sebagaimana isi dalam Al-Falaq. (PAI/IV/B1-F)