Senyum Indahnya

Dewi Nirwana
Dewi Nirwana

PERGUNU DIY – Sleman- Kicauan burung-burung begitu saja menghilang dari pendengaranku. Meninggalkan  gerak tanpa suara yang tak lagi terdengar. Tentu saja mencari makan adalah kesibukan burung-burung itu setiap harinya. Hanya saja kali ini burung-burung itu akan sedikit mengurangi “cerewetnya” itu karena satu hal. Tak baik lah menjadi burung yang cerewet. Lagipula lebih baik banyak bekerja dari pada banyak bicara alias cerewet. Sebenarnya burung itu juga tidak cerewet sih, mereka bersenandung ria karena bahagia menjumpai makanan yang begitu banyak. Mereka melihat banyak yang bisa mereka makan dan yang bisa mereka bawa untuk anak-anaknya. Mereka yang selalu memikirkan tak hanya untuk menghidupi dirinya sendiri, tapi juga anak-anaknya. Tak pernah mengenal sakitnya sengatan matahari, tak juga menghiraukan dinginnya hujan. Mereka hanya akan kembali setelah matahari mulai tenggelam.

Sinar matahari siang ini begitu teriknya. Suasana tampak sunyi karena banyak orang lebih memilih untuk istirahat di dalam rumah dan menikmati sejuknya angin AC atau dari kipas angin. Bagi mereka yang belum mampu membelinya tentu saja akan mencari-cari kipas atau bahkan kardus bekas untuk sekadar kipas-kipas menghilangkan rasa gerah. Rasanya pasti akan berubah menjadi sejuk sekali. Apalagi kalau ditambah dengan posisi tiduran berleha-leha dengan kepala diganjal bantal super empuk tiada tara. Ditemani segelas es buah yang begitu menyegarkan tenggorokan. Hmmmmmmm pasti rasanya akan sangat nikmat bahkan hingga merem melek. Membayangkannya saja sudah sangat menggiurkan. Apalagi kalau itu semua kenyataan? Berbagai macam cara manusia lakukan untuk menjalani hidupnya yang tak seutuhnya bahagia. Terkadang terlalu hanyut menikmati hidup hingga lupa diri. Lupa bahwa hidup ini hanya sementara. Hidup hanya untuk mencari bekal kehidupan yang kekal nantinya.

Belum sempat saya rehat dari pekerjaan rumah, tiba-tiba saja telepon berdering. Saya segera berjalan menuju arah dering telepon itu. Saya sempat menduga itu telepon dari sekolah karena memang akhir-akhir ini saya kerap mendapat telepon dari sekolah. 

“Hallo, assalamu’alaykum, Bu. Maaf, apakah Bu Rika bisa ke sekolah sekarang?”

Suaranya tidak asing. Tentu saja, karena suara yang saya dengar ini adalah suara Bu Tina, walikelas Arifien.

Jantung ini langsung berdebar kencang, bahkan mungkin lebih kencang dari larinya Si Budi saat dikejar angsa. Ah, tak penting juga seberapa kencangnya debar jantung ini. Yang pasti saya harus segera ke sekolah untuk menemui Bu Tina.

Sepanjang perjalanan menuju sekolah saya hanya bisa berdoa dan berharap, supaya ini bukan kabar buruk lagi. Sampai di sekolah saya langsung bertemu dengan Bu Tina.

“Maaf membuat Bu Rika repot.” Ucap Bu Tina mengawali pembicaraan kami.

“Tidak, Bu. Tidak apa-apa. Memang sudah kewajiban saya memenuhi panggilan dari sekolah.”

Saya menatap Bu Tina yang tampak sedang menyiapkan kata-kata yang baik untuk disampaikan. Padahal seberapa baik kata-kata itu sebenarnya tak terlalu penting bagi saya. Karena yang terpenting sekarang adalah saya hanya ingin tahu apa yang telah Arifien lakukan.

“Begini, Bu. Baru saja Arifien berusaha bolos sekolah. Entah apa yang menyebabkan ia ingin bolos. Karena tiba-tiba saja kami, pihak sekolah mendapati Arifien tengah memanjat pagar gerbang sekolah. Saat dipergoki, Arifien malah semakin melancarkan perbuatannya itu. Setelah ia berhasil memanjat dan lolos, kemudian ia lari mencegat bus sekolah sambil menangis dan teriak-teriak. Dia maunya bus tidak boleh pergi sebelum Bu Rika sampai di sekolah.”

Bu Tina memberi sedikit jeda di tengah ceritanya, supaya saya bisa sedikit bernafas lega walaupun di kepala ini sekarang hanya satu kata yang mampu mewakili perasaanku. malu. Bagaimana ini bisa terjadi? Padahal dulu Arifien sendiri yang minta sekolah di sini. Saya mengajaknya berkeliling melihat beberapa sekolah namun ia memilih di sini. Sampai 3 kali saya ajak ia kesini untuk meyakinkannya apakah benar ini sekolah yang ia pilih. Saat tes wawancara pun ia tampak percaya diri sekali, bahkan sudah langsung berteman dengan Wibi, karena mulai dari tes Arifien selalu bertenu dengan Wibi, salah satu teman sekelasnya saat ini.

Saat awal sekolah ia tidak rewel, mau saya tinggal, bisa sekolah dengan senang hati dan bahagia. Tapi beberapa minggu masuk sekolah kemudian ada libur panjang saat libur lebaran, kami mudik ke Jakarta. Ayahnya waktu itu masih bekerja di Kalimantan, saya juga ambil cuti kerja, jadi kami lumayan lama bisa berkumpul bersama. Begitu waktu sekolah tiba, ayahnya juga kembali ke Kalimantan lagi tiba-tiba Arifien jadi tidak mau sekolah. Saya tidak boleh bekerja lagi, harus menunggunya sekolah.

Sedikit-sedikit di kelas nangis. Bu Tina juga pernah memberitahu saya bahwa Arifien pernah menulis kata-kata kotor di bukunya. Saya benar-benar pusing dengan berbagai hal yang Arifien lakukan akhir-akhir ini sampai tak dapat mengingat dengan jelas apa saja keonaran yang telah ia lakukan. Yang pasti, seberapapun rusuhnya perbuatannya itu, ia tak pernah menyakiti temannya, memukul atau sejenisnya. Bahkan saya pernah melihatnya dikerubuti banyak teman-temannya sedangkan ia hanya diam saja melihat ke bawah. 

Beberapa kali saya di telepon sekolah untuk datang, terutama saat ia ngambek. Biasanya ia akan berada di kantor guru. Saya juga pernah disarankan salah satu guru supaya saya membawa Arifien ke psikolog. Sempat kesal dengan saran itu, tapi saya juga tetap mencobanya. Demi perubahan Arifien kelak. Beberapa kali pula saya bawa Arifien ke psikolog, namun hasilnya?

Arifien dinyatakan tidak apa-apa. Tak bermasalah. Walaupun saya tidak tahu hasilnya secara keseluruhan bagaimana karena memang tidak diberitahu secara detail.

Saya memang tidak menjaganya selama 24 jam dalam sehari. Waktunya mungkin memang lebih banyak di sekolah, karena sekolahnya juga yang memang fullday. Namun saya tak pantang menyerah! Saya mulai menjalankan saran beberapa guru. Membaca surat Al Fatihah saat Arifien tidur sambil mengusap kepalanya. Lebih banyak sholat dan dzikir juga. Saya juga berpesan pada ayahnya supaya melakukan hal tersebut saat masih di Kalimantan. Pekerjaan sebisa mungkin saya kerjakan di tempat kerja, tidak di bawa pulang ke rumah. Sebisa mungkin saat di rumah konsentrasi hanya untuk Arifien.

Saya juga mengajaknya jalan-jalan saat saya libur, seperti saat saya tidak bekerja dulu, kerena memang Arifien sering saya ajak jalan-jalan. Kalau ke mall bukan untuk jajan, tapi untuk melihat berbagai barang-barang. Jalan-jalan ke sawah untuk melihat orang yang bekerja di sawah, melihat serangga-serangga. Saya dan ayahnya memang terbiasa seperti itu karena bagi kami dimanapun, kapanpun, dan siapapun yang kita temui adalah ilmu dan sarana untuk belajar.

Ayahnya memang sangat keras dalam hal ibadah, jadi saya yang dulunya tidak tega menjadi terbawa. Maka dari itu sejak kelas 1 Arifien sholat wajib dan sholat dhuhanya tidak pernah ketinggalan. Puasanya juga sudah bisa full. Dari kecil ia sudah mengerti bahwa dunia itu sementara dan kita mengejar akhirat, jadi memahamkan mana yang lebih utama jadi lebih mudah, dan kecintaannya terhadap Tuhan lah yang memudahkan ia mengerti untuk terbiasa patuh pada peraturan.

Menonton televisi bukanlah larangan. Justru televisi adalah teman kami untuk belajar. Saya dan ayahnya dulu bekerja di PH, jadi kami tidak bisa dijauhkan dari televisi karena dari sanalah kami juga mendapatkan penghasilan. Hanya saja memang saya membatasi apa yang boleh ia tonton. Kami berusaha menyisihkan uang agar kami bisa menggunakan televisi berlangganan. Jadi memang Arifien tidak pernah menonton saluran dalam negeri. Dan juga tidak perrnah terpapar iklan. Boleh menonton discovery channel, history, dan channel-channel sejenis atau channel agama. Kalau menonton variety show atau film kartun harus didampingi. Boleh juga menonton kartun akan tetapi jamnya terbatas. Setiap hari memang ia menonton televisi. Apalagi pulang sekolah, karena itu memang sarananya untuk santai di rumah.

Yang sangat saya batasi hanyalah bermain game. Kami tidak punya playstation atau permainan sejenisnya. Saya membolehkannya bermain game di tablet tapi hanya saat akhir pekan saja dan itu pun dengan waktu yang dibatasi. Dan memang tidak diperbolehkan memakai tablet atau menyalakan televisi tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Kebiasaan ini tidak pernah ia langgar. Dan ia juga melakukannya dengan senang hati tanpa paksaan.

Pernah suatu kali saya saya ke pasar di hari Minggu, ia baru akan menyalakan televisi setelah saya pulang dan sudah saya perbolehkan untuk menyalakan televisi. Bagi kami, televisi memang jendela dunia. Melalui televisi kita dapat berjalan-jalan ke seluruh dunia. Jadi, Arifien juga dapat mengerti makanan dan tempat-tempat di dunia dari televisi.

“Selamat Bu. Arifien peringkat pertama”

 “Selamat, Bu. Arifien lolos Olimpiade Sains Kuark ke babak berikutnya”

Kini, berbagai ucapan selamat banyak saya terima. Sikap nakalnya dulu tanpa terasa hilang begitu saja. Yang pasti saya terus berusaha untuk menjadikannya anak yang baik. Banyak guru yang menyangka daridulu Arifien memang seperti itu (anak yang pintar dan selalu taat peraturan), bahkan mereka kaget saat mengetahui sedikit kenakalannya dulu. Saat ditanya mengapa dulu bisa seperti itu? Arifien akan menjawab “Aku juga gak tau, bu” sambil tersenyum indah.

Penulis : Dewi Nirwana (Guru SDNU Sleman Yogyakarta)