Cipasung 1994: Gus Dur, NU, dan Nafas Demokrasi yang Ditekan Rezim

- Penulis

Senin, 26 Mei 2025 - 10:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam pemilihan yang penuh intrik itu, Gus Dur tetap unggul. Ia kembali terpilih sebagai Ketua Umum PBNU. Dalam pidato penutupnya, Gus Dur mengguncang forum:

“Kalau NU ini mau jadi alat kekuasaan, lebih baik bubarkan saja.”

Sebuah kalimat yang hingga kini masih bergema di hati mereka yang benar-benar memahami NU bukan sebagai kendaraan, tapi sebagai warisan perjuangan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gus Dur Menang di Cipasung, Tapi Bagaimana Hari Ini?

Saya bukan siapa-siapa. Hanya seorang santri kecil yang mencintai NU—bukan sekadar struktur organisasi PBNU, tapi NU yang lahir dari keringat dan air mata kiai-kiai kampung. NU yang berpihak pada wong cilik, bukan NU yang bersandar pada kursi empuk kekuasaan.

Baca Juga :  Sambut Dawuh Sultan HB X, PW Pergunu DIY Siap Integrasikan PKJ di Madrasah

Cipasung 1994 adalah napas terakhir dari NU yang masih bisa melawan. Setelah itu? PBNU tampaknya mulai “move on”, sayangnya bukan menuju arah Gus Dur, tapi arah yang dulu ditentangnya. Banyak yang kini mengaku “mengikuti Gus Dur”, tapi lebih sibuk mencari panggung di istana ketimbang menjaga nalar kritisnya.

Baca Juga :  Tirakat Menahan Rindu: Kenapa Terlalu Sering ‘Nyambang’ Anak di Pondok Justru Bikin Runyam

Sementara itu, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)—yang didirikan Gus Dur untuk mewadahi aspirasi politik warga NU secara sehat—justru lebih konsisten menjaga semangat awal: keberpihakan, kerakyatan, dan ketegasan terhadap penguasa. Mungkin karena PKB adalah ruang warisan Gus Dur yang lahir dari luka, bukan dari struktur. Maka tak heran, jika hari ini nilai-nilai Gus Dur justru lebih terasa di PKB daripada di PBNU.

Follow WhatsApp Channel www.pergunudiy.or.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Merawat Tradisi, Menjemput Masa Depan: Menyiapkan Generasi Emas Nahdliyin di Ekosistem Pendidikan Terintegrasi
Contoh Sambutan Perpisahan/Akhirussanah Kepala Sekolah Berbasis Pesantren
Kyai Nur Zaidin: Ulama Pejuang Diponegoro dan Perintis Dakwah Pesantren di Banyumas
Biografi Kyai Tasliman: Penjaga Sunyi Warisan Dakwah dan Jejak Perjuangan Diponegoro
Songsong Pelantikan, PW PERGUNU DIY Perkuat Jejaring dengan RMI dan UNY
Sambut Dawuh Sultan HB X, PW Pergunu DIY Siap Integrasikan PKJ di Madrasah
Konsolidasi Awal Kepengurusan, PW PERGUNU DIY Matangkan Pelantikan dan Bedah SK Masa Khidmat 2026–203
OPEN KONTRIBUTOR WEBSITE PW PERGUNU DIY
Berita ini 177 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 13:36 WIB

Merawat Tradisi, Menjemput Masa Depan: Menyiapkan Generasi Emas Nahdliyin di Ekosistem Pendidikan Terintegrasi

Kamis, 28 Mei 2026 - 10:17 WIB

Contoh Sambutan Perpisahan/Akhirussanah Kepala Sekolah Berbasis Pesantren

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:20 WIB

Kyai Nur Zaidin: Ulama Pejuang Diponegoro dan Perintis Dakwah Pesantren di Banyumas

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:13 WIB

Biografi Kyai Tasliman: Penjaga Sunyi Warisan Dakwah dan Jejak Perjuangan Diponegoro

Selasa, 19 Mei 2026 - 09:46 WIB

Songsong Pelantikan, PW PERGUNU DIY Perkuat Jejaring dengan RMI dan UNY

Berita Terbaru