Dalam pemilihan yang penuh intrik itu, Gus Dur tetap unggul. Ia kembali terpilih sebagai Ketua Umum PBNU. Dalam pidato penutupnya, Gus Dur mengguncang forum:
“Kalau NU ini mau jadi alat kekuasaan, lebih baik bubarkan saja.”
Sebuah kalimat yang hingga kini masih bergema di hati mereka yang benar-benar memahami NU bukan sebagai kendaraan, tapi sebagai warisan perjuangan.
Gus Dur Menang di Cipasung, Tapi Bagaimana Hari Ini?
Saya bukan siapa-siapa. Hanya seorang santri kecil yang mencintai NU—bukan sekadar struktur organisasi PBNU, tapi NU yang lahir dari keringat dan air mata kiai-kiai kampung. NU yang berpihak pada wong cilik, bukan NU yang bersandar pada kursi empuk kekuasaan.
Cipasung 1994 adalah napas terakhir dari NU yang masih bisa melawan. Setelah itu? PBNU tampaknya mulai “move on”, sayangnya bukan menuju arah Gus Dur, tapi arah yang dulu ditentangnya. Banyak yang kini mengaku “mengikuti Gus Dur”, tapi lebih sibuk mencari panggung di istana ketimbang menjaga nalar kritisnya.
Sementara itu, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)—yang didirikan Gus Dur untuk mewadahi aspirasi politik warga NU secara sehat—justru lebih konsisten menjaga semangat awal: keberpihakan, kerakyatan, dan ketegasan terhadap penguasa. Mungkin karena PKB adalah ruang warisan Gus Dur yang lahir dari luka, bukan dari struktur. Maka tak heran, jika hari ini nilai-nilai Gus Dur justru lebih terasa di PKB daripada di PBNU.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya









