Cipasung 1994: Gus Dur, NU, dan Nafas Demokrasi yang Ditekan Rezim

- Penulis

Senin, 26 Mei 2025 - 10:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ironis memang. Yang diwarisi hanya jasnya, bukan perjuangannya. Yang digadang-gadang adalah namanya, tapi ditinggalkan gagasannya.

Cipasung Sebagai Simbol

Empat tahun setelah muktamar itu, Soeharto tumbang. Lima tahun kemudian, Gus Dur menjadi Presiden RI ke-4. Tapi jauh sebelum menduduki istana, Gus Dur sudah menjadi presiden dalam hati para santri—karena keberaniannya melawan arus, menentang manipulasi, dan menjaga NU tetap waras.

Baca Juga :  Tirakat Menahan Rindu: Kenapa Terlalu Sering ‘Nyambang’ Anak di Pondok Justru Bikin Runyam

Hari ini, Cipasung harus dikenang bukan sekadar sebagai lokasi muktamar, tapi sebagai benteng terakhir independensi NU terhadap kekuasaan. Tempat di mana Gus Dur berdiri sendirian melawan “gerombolan politik”, dan menang bukan karena koneksi, tapi karena kepercayaan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tapi kita patut bertanya:
Kalau muktamar seperti itu terjadi lagi hari ini, siapa yang berdiri di sisi Gus Dur? Siapa yang berdiri di sisi kekuasaan? Dan siapa yang hanya pura-pura netral sambil menghitung untung?

Baca Juga :  Penilaian Kerja Kepala Madrasah MTs Nur Iman Mlangi Yogyakarta

Karena sejarah tidak berulang dengan cara yang sama. Kadang, mereka yang dulu melawan jadi pelindung kekuasaan. Dan mereka yang dulu dibungkam, kini mewariskan suara kepada generasi baru yang tak ingin NU dijual murah.

Follow WhatsApp Channel www.pergunudiy.or.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Merawat Tradisi, Menjemput Masa Depan: Menyiapkan Generasi Emas Nahdliyin di Ekosistem Pendidikan Terintegrasi
Contoh Sambutan Perpisahan/Akhirussanah Kepala Sekolah Berbasis Pesantren
Kyai Nur Zaidin: Ulama Pejuang Diponegoro dan Perintis Dakwah Pesantren di Banyumas
Biografi Kyai Tasliman: Penjaga Sunyi Warisan Dakwah dan Jejak Perjuangan Diponegoro
Songsong Pelantikan, PW PERGUNU DIY Perkuat Jejaring dengan RMI dan UNY
Sambut Dawuh Sultan HB X, PW Pergunu DIY Siap Integrasikan PKJ di Madrasah
Konsolidasi Awal Kepengurusan, PW PERGUNU DIY Matangkan Pelantikan dan Bedah SK Masa Khidmat 2026–203
OPEN KONTRIBUTOR WEBSITE PW PERGUNU DIY
Berita ini 177 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 13:36 WIB

Merawat Tradisi, Menjemput Masa Depan: Menyiapkan Generasi Emas Nahdliyin di Ekosistem Pendidikan Terintegrasi

Kamis, 28 Mei 2026 - 10:17 WIB

Contoh Sambutan Perpisahan/Akhirussanah Kepala Sekolah Berbasis Pesantren

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:20 WIB

Kyai Nur Zaidin: Ulama Pejuang Diponegoro dan Perintis Dakwah Pesantren di Banyumas

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:13 WIB

Biografi Kyai Tasliman: Penjaga Sunyi Warisan Dakwah dan Jejak Perjuangan Diponegoro

Selasa, 19 Mei 2026 - 09:46 WIB

Songsong Pelantikan, PW PERGUNU DIY Perkuat Jejaring dengan RMI dan UNY

Berita Terbaru