Ironis memang. Yang diwarisi hanya jasnya, bukan perjuangannya. Yang digadang-gadang adalah namanya, tapi ditinggalkan gagasannya.
Cipasung Sebagai Simbol
Empat tahun setelah muktamar itu, Soeharto tumbang. Lima tahun kemudian, Gus Dur menjadi Presiden RI ke-4. Tapi jauh sebelum menduduki istana, Gus Dur sudah menjadi presiden dalam hati para santri—karena keberaniannya melawan arus, menentang manipulasi, dan menjaga NU tetap waras.
Hari ini, Cipasung harus dikenang bukan sekadar sebagai lokasi muktamar, tapi sebagai benteng terakhir independensi NU terhadap kekuasaan. Tempat di mana Gus Dur berdiri sendirian melawan “gerombolan politik”, dan menang bukan karena koneksi, tapi karena kepercayaan.
Tapi kita patut bertanya:
Kalau muktamar seperti itu terjadi lagi hari ini, siapa yang berdiri di sisi Gus Dur? Siapa yang berdiri di sisi kekuasaan? Dan siapa yang hanya pura-pura netral sambil menghitung untung?
Karena sejarah tidak berulang dengan cara yang sama. Kadang, mereka yang dulu melawan jadi pelindung kekuasaan. Dan mereka yang dulu dibungkam, kini mewariskan suara kepada generasi baru yang tak ingin NU dijual murah.









