Mengeluhnya Masyarakat Serta Rapuhnya Dunia Pendidikan!

Oleh ZAINAL MUTTAQIN SE

Zainal Muttaqin SE (kanan bersama santri dan tim guru ngaji)
Zainal Muttaqin SE (kanan bersama santri dan tim guru ngaji)

Pergunu DIYCANGKRINGAN– Pada 2 Maret 2020 lalu, Indonesia dinyatakan adanya kasus Covid-19. Sejak saat itu pula, Indonesia digegerkan atas penyakit tesebut. Hingga pemerintah pun turut membuat kebijakan lockdown, PSBB, PPKM, dan sebagainya. Terlepas dari percaya atau tidaknya penyakit ini, juga ditambah dengan munculnya narasi-narasi media yang membingungkan, begitu pun sikap pro-kontra yang tak kunjung reda. Sehingga, alangkah baiknya bagi setiap individu untuk terus selalu waspada serta menjaga kesehatan, baik dengan cara olahraga, makan teratur, berusaha tidak stress, dan tentunya wajib melakukan protokol kesehatan.

Bersamaan dengan itu, kini pemerintah mulai menerapkan peraturan PPKM atau pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat di Indonesia, dimana program ini terpaksa dilakukan sebab untuk menangani lonjakan kasus Covid-19 yang semakin meningkat tiap harinya. Namun, berjalannya penerapan ini dirasa sangat kejam bagi tiap masyarakat yang mencari pendapatan harian, sebab masih terdapat pemberitaan media bahwa beberapa aparat sengaja membubarkan mereka tanpa memberi solusi. Padahal peraturan tersebut telah direvisi, salah satunya seperti bagi masyarakat yang menjual kebutuhan sehari-hari dibatasi sampai jam 20.00.

Mungkin bagi yang bekerja secara WFH atau work from home, akan pro dengan adanya program pemerintah tersebut. Akan tetapi, bagaimana dengan masyarakat yang mengadu nasib di bidang swasta? Seperti pedagang, angkot, travel, dan sebagainya. Apakah ada solusi terhadap masyarakat  kecil tersebut?

Akibatnya, kini terdapat beberapa masyarakat yang tiba-tiba stress dan emosional gegara tidak memiliki pendapatan. Sehingga, jangan kaget kalau tiba-tiba beberapa masyarakat kecil ada yang tidak mempercai adanya penyakit ini, lebih-lebih dianggapnya sebagai konspirasi belaka. Sehingga, alangkah baiknya jika program pemerintah ingin tetap tegak di mata masyarakat, maka jangan korbankan juga masyarakat kecil yang hanya mencari pedapatan harian.

Kemudian di sisi lain, lebih tepatnya di dunia pendidikan, juga mengikuti anjuran dari pemerintah yaitu dengan tidak memasukkan anak-anak atau mahasiswanya ke dalam ruang kelas atau belajar dari rumah secara daring. Namun, apakah sebenarnya efektif pembelajaran yang dilakukan secara daring?

Sebagai buktinya akan penulis tuliskan faktanya dilapangan.

Pertama, bagi anak-anak usia dini hingga menengah atas. Pada dasarnya mereka sudah bosan dengan adanya pembelajaran secara daring. Alasannya, siswa-siswi kini mulai jenuh dengan adanya tugas-tugas. Mungkin, bagi anak yang pintar akan segera mengerjakan tugas tersebut. Akan tetapi bagaimana nasib anak yang memiliki kempuan sedang? Belum lagi anak yang tidak memiliki alat elektronik, seperti handphone.

Akibatnya, beberapa anak kini mulai acuh dengan adanya tugas yang diberikan oleh gurunya, lebih parahnya lagi kebanyakan tugas juga dikerjakan langsung oleh orangtuanya sendiri. Belum lagi problem anak yang tiba-tiba lebih senang bermain game online ketimbang belajar. Belum lagi masalah orangtua yang tidak memiliki handphone, sehingga anaknya tidak bisa mengikuti pembelajaran dengan baik. Hal-hal tersebutlah yang kemudian menjadi alasan bahwa pendidikan kini mulai rapuh.

Kedua, bagi mahasiswa. Dimana pembelajaran juga dilakukan secara daring, baik melalui aplikasi zoom maupun meet. Memang  bagi mahasiswa yang rajin, ia akan mendengarkan secara seksama pembelajaran yang diberikan dosen. Akan tetapi, bagaimana dengan nasib mahasiswa yang sengaja mematikan kamera serta audionya? Apakah mereka benar-benar mendengarkan pembelajaran tersebut? Atau jangan-jangan mereka lebih memilih tidur saat pembelajaran dan melek di saat presentasi. Hal tersebutlah yang kemudian menguatkan lagi bahwa pendidikan kini semakin rapuh.

Lantas, apa solusi yang penulis tawarkan sekarang?

Pertama, sebenarnya harapan penulis adalah adanya pembelajaran tatap muka, yaitu dengan cara pembatasan anak atau dikhususkan lagi untuk anak yang jarang mengerjakan tugas serta  yang tidak memiliki fasilitas handphone. Hal ini menjadi penting untuk anak-anak tersebut agar pendidikan masih bisa dirasakan, tentunya dengan catatan bahwa anak tersebut harus tetap mematuhi protokol kesehatan setiap akan melakukan pembelajaran.

Kedua, stop sebar berita hoax maupun berita yang menimbulkan ketakutan, serta jangan saling  menyalahkan dan menuduh akan adanya penyakit ini, baik terhadap pemerintahan ataupun masyarakat itu sendiri. Ketiga, lakukan olahraga setidaknya 30 menit perhari, hal ini sebagai upaya untuk menjaga agar badan tetap sehat serta imun tambah kuat. Keempat, wajib bagi setiap individu untuk melakukan vaksin, sebab hal ini merupakan ikhtiar dari para pakar medis maupun pemerintah, agar pandemi ini segera cepat usai.

Penulis Pengajar di RSB Diponegoro dan Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.