Penguatan Keharmonisan Manusia dan Alam Melalui Takwa Diagonal

- Penulis

Minggu, 21 Desember 2025 - 21:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengantar

Beberapa tahun terakhir, Indonesia dan dunia menghadapi rangkaian krisis ekologis yang semakin mengkhawatirkan. Suhu ekstrem, banjir bandang, kebakaran hutan, krisis air bersih, hingga cuaca yang kian sulit diprediksi telah menjadi bagian dari keseharian manusia modern. Fenomena-fenomena ini bukan sekadar data ilmiah atau isu lingkungan semata. Dalam perspektif keimanan, semua itu merupakan tanda-tanda Tuhan yang menegur cara manusia memperlakukan bumi.

Ketika peristiwa-peristiwa tersebut hanya dipahami sebagai “musibah alam”, kita kehilangan dimensi spiritual yang lebih dalam: bahwa alam sedang mengingatkan manusia akan hukum-hukum Tuhan yang diabaikan. Al-Qur’an menyebut kondisi semacam ini sebagai rijs, sebagaimana termaktub dalam QS. Yunus ayat 100. Imam Al-Baidhowi dalam kitab tafsir Anwarut Tanzil menjelaskan:

وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ﴾ العَذابَ أوِ الخِذْلانَ فَإنَّهُ سَبَبُهُ﴿

Yang dimaksud rijs adalah azab atau kehinaan yang ditimpakan Allah, karena perbuatan mereka sendiri yang menjadi sebabnya (Tafsir Al-Baidhowi QS. Yunus 100). Tafsir ini memberi pesan teologis bahwa penderitaan kolektif, termasuk krisis ekologis, dapat menjadi konsekuensi dari sikap manusia yang tidak menggunakan akal dan tidak selaras dengan ketetapan Allah.

Baca Juga :  ORANG TUA

Namun demikian, Islam juga mengajarkan bahwa musibah tidak selalu bermakna hukuman. Dalam banyak keadaan, ia justru merupakan ujian bagi hamba-hamba yang dicintai Allah. Rasulullah Saw. bersabda:

﴾إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ ﴿رَوَاهُ التِّرْمِذِي

Artinya: Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui musibah yang besar pula. Apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, baginya keridhaan Allah, dan barangsiapa yang tidak ridha, baginya kemurkaan Allah (HR. at-Tirmidzi).

Di sinilah pentingnya membedakan antara musibah sebagai ujian spiritual dan musibah sebagai konsekuensi dari kelalaian manusia terhadap hukum-hukum Allah di alam. Krisis ekologis menuntut refleksi yang lebih dalam, bukan sekadar kesabaran individual.

Dimensi Ketakwaan Ketiga: Takwa Diagonal

Dalam tradisi Islam, ketakwaan umumnya dipahami melalui dua dimensi utama. Pertama, relasi vertikal manusia dengan Allah (hablum minallah), yang terwujud dalam ibadah ritual, ketaatan, dan kedekatan spiritual. Kedua, relasi horizontal manusia dengan sesama (hablum minan nas), yang terwujud dalam keadilan sosial, etika bermasyarakat, dan solidaritas kemanusiaan, adil bernegara. Dua dimensi ini merupakan fondasi penting kehidupan beragama.

Baca Juga :  Membongkar Kesalahan Logika dalam Kritik Terhadap NU

Namun, dalam menghadapi krisis ekologis abad ke-21, struktur ketakwaan tersebut belum sepenuhnya memadai. Selama berabad-abad, dua dimensi ini berjalan relatif stabil dalam ruang sosial yang terbatas. Akan tetapi, ketika kerusakan lingkungan semakin masif dan sebagian besar disebabkan oleh perilaku manusia, tampak satu celah besar: hubungan manusia dengan alam belum ditempatkan sebagai bagian eksistensial dari ketakwaan.

Alam kerap diperlakukan semata sebagai sumber daya ekonomi, bukan sebagai amanah spiritual. Padahal Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia merenungkan langit, bumi, angin, hujan, gunung, dan seluruh ekosistem sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah. Sayangnya, kesadaran ekologis ini sering terpisah dari praktik ibadah sehari-hari.

Penulis : Lukman Ahmad Irfan

Editor : dipadilaga

Sumber Berita: Nahnu TV

Berita Terkait

Membongkar Kesalahan Logika dalam Kritik Terhadap NU
Ujung Akhir dari Segala Ilmu
TEKNIK AMALAN JUM’AT TERAKHIR BULAN RAJAB
STRATEGI MEMILIH PEMIMPIN
Laporan Perkembangan; MA Diponegoro Miliki Catatan dan Tantangan
𝙍𝘼𝘽𝙐 𝙒𝙀𝙆𝘼𝙎𝘼𝙉, 𝘼𝙈𝘼𝙇𝙄𝙔𝘼𝙃 𝙉𝘼𝙃𝘿𝙇𝙄𝙔𝙔𝙄𝙉 𝘿𝘼𝙇𝘼𝙈 𝙋𝙀𝙍𝙎𝙋𝙀𝙆𝙏𝙄𝙁 𝙁𝙄𝙌𝙃 𝙎𝙔𝘼𝙁𝙄’𝙄
Sebagian Niat Qurban, lainnya Niat Aqiqiqah
Duta Pembelajaran Darurat Covid di Rumah Murid
Berita ini 20 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 21 Desember 2025 - 21:16 WIB

Penguatan Keharmonisan Manusia dan Alam Melalui Takwa Diagonal

Kamis, 6 November 2025 - 11:48 WIB

Membongkar Kesalahan Logika dalam Kritik Terhadap NU

Rabu, 2 Juli 2025 - 22:07 WIB

Ujung Akhir dari Segala Ilmu

Jumat, 17 Februari 2023 - 01:18 WIB

TEKNIK AMALAN JUM’AT TERAKHIR BULAN RAJAB

Sabtu, 19 November 2022 - 08:14 WIB

STRATEGI MEMILIH PEMIMPIN

Berita Terbaru