Nabi Muhammad sedari Kecil Bintang

Oleh Fauzan, S.Pd.I, M.Ag

Domba Gurun
Domba gurun ekspor

Pergunu DIY –Minggir– Nabi Muhammad saw teladan bagi semua kalangan. Bintang sedari kecil. Bagi anak-anak, para santri, dan pelajar semuanya baik laki-laki pun perempuan. Sifatnya terpuji akhlaknya mulia. Putra dari sayyid Abdullah ini menjadi rahmat seluruh alam. Pribadinya yang sempurna menjadi anugrah seluruh umat sepanjang masa teruntuk semua bangsa. Mandiri sedari belia, percaya dirinya menginspirasi, dan personanya yang bertanggung jawab.

Lahirnya di Arab, kota yang penting dan mendunia. Yatim sedari lahir. Masih dalam kandungan ayahanda tercinta meninggal. Kehilangan figur kebanggaan seorang bapak saat dalam rahim sang ibu, sayyidah Aminah. Muhammad kecil diajak sang ibu berziarah ke makam pesarean ramanya. Mendoakannya sebagai tanda hormat dan ta’zim yang sekaligus memperkenalkan riwayat sang ayah.

Dalam perjalanan sepulang ziarah dari pesarean ibunda Muhammad jatuh sakit. Dirawatlah penduduk Abwa. Namun jiwanya tak tertolong. Ibu tercinta meninggal dunia. Tak pernah mendapati bahagia bersama bapak, berikutnya menjadi yatim piatu. Kesedihan yang mendalam diusianya yang enam tahun, ibu tercinta tutup usia. Muhammad kecil tumbuh tanpa bapak dan ibundanya.

Muhammad yatim piatu, tanpa bapak dan ibu. Kecilnya belajar hidup bersama eyangnya, Abdul Muntholib. Giat menjaga kebersihan rumah, menyapunya kapan saja. Ahmad juga senang membersamai embahnya menjaga Kakbah. Muhammad anak yang sehat dan kuat. Pribadinya lincah dan percaya diri. Ahmad atau Muhammad lekas berbuat sesuatu tidak malu uluk salam kepada tamu sang kakek, untuk sekedar menghidangkan minuman.

Ahmad anak yang mandiri. Memasak dan membuat minuman sendiri. Tidak pernah merepotkan sang kakek. Bisa mengenali waktu dan jadual harian. Mandi, sarapan, menata perabot rumah tanpa diperintah. Bangun pagi buta dan bergegas ikut membantu kerjaan kakeknya di dalam rumah pun di luarnya. Mencuci bolo pecah dan mengambil air dari sumur. Cakap mengurus barangnya sendiri, mencuci baju, menata perabotan kamar tidur dll.

Kehangatan mbah kakung tidaklah lama. Pemuka bangsa Quraisy tersebut meninggalkan untuk selama-lamanya. Abu Thalib adik dari ramanya menjadi tumpuan hidupnya. Makan, minum, dan tidur bersamanya. Nyatri mondok dan bekerja dalam bimbingan sang paman. Kambing peliharaanya dirawat. Yang kurus jadi gemuk, yang sakit-sakitan menjadi sehat. Sehingga kambingnya menjadi banyak, berkembang puluhan, hingga ratusan ekor.

Abu Thalib amat menyayangi Muhammad. Putra kakak kandungnya sama sekali tidak membebani keluarganya, meski anaknya banyak. Berbagai kebutuhan dan pelajaran penting diberikanya. Ahmad handal dan bertanggung jawab. Usahanya kambing sunggguh-sungguh dirawat dan ditekuni. Disiplin memberi pakan, minum dan perlakuan lainya. Kambingnya gemuk-gemuk, sehat dan digemari para pembeli pun saudagar. (PAI/III/B1-F)