Penutup
Relevansi Takwa Diagonal semakin nyata hari ini. Kerusakan alam hampir selalu berujung pada kerusakan sosial. Ketika hutan rusak, banjir menimpa masyarakat miskin; ketika polusi meningkat, anak-anak menjadi korban pertama; ketika kekeringan meluas, konflik sumber daya tak terelakkan. Mengabaikan ketakwaan ekologis pada akhirnya meruntuhkan ketakwaan sosial itu sendiri.
Pesantren, Masjid dan lembaga keagamaan memiliki peran strategis dalam mempopulerkan Takwa Diagonal. Pengelolaan sampah yang baik, penghematan air wudhu, pemanfaatan energi terbarukan, serta gerakan menanam pohon di sekitar masjid dan madrasah merupakan bentuk ibadah diagonal yang konkret dan aplikatif. Takwa Diagonal memberi arah spiritual bagi generasi baru umat Islam. Ia mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan Allah tidak dapat dipisahkan dari cara manusia memperlakukan bumi. Menghormati alam berarti menghormati hukum-hukum Allah; merusaknya berarti mengabaikan amanah-Nya.
Di tengah bumi yang terus mengirimkan tanda-tanda peringatan, Takwa Diagonal menawarkan kesadaran yang menyatukan langit, manusia, dan alam dalam satu garis penghambaan. Inilah saatnya umat Islam memperluas cakrawala ketakwaan: tidak hanya bersujud di masjid dan harmomis dengan manusia, tetapi juga menjaga bumi sebagai amanah ilahiah.
Wallohu A’lam, semoga bermanfaat.
* Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII), Ketua DMI Berbah, dan Rais Syuriah NU Berbah, Sleman, DIY.
Penulis : Lukman Ahmad Irfan
Editor : dipadilaga
Sumber Berita: Nahnu TV









