Penguatan Keharmonisan Manusia dan Alam Melalui Takwa Diagonal

- Penulis

Minggu, 21 Desember 2025 - 21:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Penutup

Relevansi Takwa Diagonal semakin nyata hari ini. Kerusakan alam hampir selalu berujung pada kerusakan sosial. Ketika hutan rusak, banjir menimpa masyarakat miskin; ketika polusi meningkat, anak-anak menjadi korban pertama; ketika kekeringan meluas, konflik sumber daya tak terelakkan. Mengabaikan ketakwaan ekologis pada akhirnya meruntuhkan ketakwaan sosial itu sendiri.

Pesantren, Masjid dan lembaga keagamaan memiliki peran strategis dalam mempopulerkan Takwa Diagonal. Pengelolaan sampah yang baik, penghematan air wudhu, pemanfaatan energi terbarukan, serta gerakan menanam pohon di sekitar masjid dan madrasah merupakan bentuk ibadah diagonal yang konkret dan aplikatif. Takwa Diagonal memberi arah spiritual bagi generasi baru umat Islam. Ia mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan Allah tidak dapat dipisahkan dari cara manusia memperlakukan bumi. Menghormati alam berarti menghormati hukum-hukum Allah; merusaknya berarti mengabaikan amanah-Nya.

Baca Juga :  Tirakat Menahan Rindu: Kenapa Terlalu Sering ‘Nyambang’ Anak di Pondok Justru Bikin Runyam

Di tengah bumi yang terus mengirimkan tanda-tanda peringatan, Takwa Diagonal menawarkan kesadaran yang menyatukan langit, manusia, dan alam dalam satu garis penghambaan. Inilah saatnya umat Islam memperluas cakrawala ketakwaan: tidak hanya bersujud di masjid dan harmomis dengan manusia, tetapi juga menjaga bumi sebagai amanah ilahiah.

Wallohu A’lam, semoga bermanfaat.

* Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII), Ketua DMI Berbah, dan Rais Syuriah NU Berbah, Sleman, DIY.

Penulis : Lukman Ahmad Irfan

Editor : dipadilaga

Sumber Berita: Nahnu TV

Follow WhatsApp Channel www.pergunudiy.or.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

GURU: KEPAKAN KECIL YANG MENGGERAKKAN PERADABAN
Drama Minta “Boyong”: Saat Anak Merengek Berhenti Mondok, Orang Tua Harus Apa?
Tirakat Menahan Rindu: Kenapa Terlalu Sering ‘Nyambang’ Anak di Pondok Justru Bikin Runyam
Membongkar Kesalahan Logika dalam Kritik Terhadap NU
Ujung Akhir dari Segala Ilmu
TEKNIK AMALAN JUM’AT TERAKHIR BULAN RAJAB
STRATEGI MEMILIH PEMIMPIN
Laporan Perkembangan; MA Diponegoro Miliki Catatan dan Tantangan
Berita ini 71 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 6 Mei 2026 - 13:31 WIB

GURU: KEPAKAN KECIL YANG MENGGERAKKAN PERADABAN

Kamis, 30 April 2026 - 08:18 WIB

Drama Minta “Boyong”: Saat Anak Merengek Berhenti Mondok, Orang Tua Harus Apa?

Kamis, 30 April 2026 - 07:23 WIB

Tirakat Menahan Rindu: Kenapa Terlalu Sering ‘Nyambang’ Anak di Pondok Justru Bikin Runyam

Minggu, 21 Desember 2025 - 21:16 WIB

Penguatan Keharmonisan Manusia dan Alam Melalui Takwa Diagonal

Kamis, 6 November 2025 - 11:48 WIB

Membongkar Kesalahan Logika dalam Kritik Terhadap NU

Berita Terbaru