Penguatan Keharmonisan Manusia dan Alam Melalui Takwa Diagonal

- Penulis

Minggu, 21 Desember 2025 - 21:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di sinilah konsep Takwa Diagonal menjadi relevan untuk dipopulerkan. Jika ketakwaan vertikal menghubungkan manusia dengan Allah dan ketakwaan horizontal menghubungkan manusia dengan sesama, maka Takwa Diagonal menghubungkan manusia dengan seluruh ciptaan (hablum ma‘a al-kawn). Ia merupakan kesadaran hidup yang selaras dengan sunnatullah, hukum-hukum Allah yang mengatur alam semesta.

Disebut “diagonal” karena ia melintasi dan mengintegrasikan dua dimensi ketakwaan utama sekaligus. Takwa Diagonal bukan kategori moral baru, melainkan penyempurnaan tauhid: pengakuan bahwa Allah mengatur alam melalui hukum-hukum-Nya, dan manusia berkewajiban menyesuaikan perilakunya dengan hukum tersebut.

Takwa Diagonal sebagai Ibadah dan Implementasi Maqashidus Syariah

Takwa Diagonal menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar pilihan etis atau kepedulian sosial, melainkan kewajiban spiritual dan bagian dari ibadah. Mengurangi sampah plastik, merawat sungai, menghemat energi, menanam pohon, serta menggunakan teknologi ramah lingkungan bukan sekadar tindakan duniawi. Semua itu merupakan bentuk ubudiyyah, penghambaan kepada Allah melalui penghormatan terhadap sunnatullah.

Baca Juga :  Bad Influencers : Antitesis Pendidikan Karakter

Pandangan ini sejalan dengan kerangka besar pemikiran Imam Ghazali tentang tujuan syariat. Dalam al-Mustashfa, beliau menegaskan:

أما المصلحة فهي عبارة في الأصل عن جلب منفعة أو دفع مضرة ولسنا نعني به ذلك فإن جلب المنفعة ودفع المضرة مقاصد الخلق وصلاح الخلق في تحصيل مقاصدهم لكنا نعني بالمصلحة المحافظة على مقصود الشرع ومقصود الشرع من الخلق خمسة وهو أن يحفظ عليهم دينهم ونفسهم وعقلهم ونسلهم ومالهم فكل ما يتضمن حفظ هذه الأصول الخمسة فهو مصلحة وكل ما يفوت هذه الأصول فهو مفسدة ودفعها مصلح.

Baca Juga :  JIHAD

Kemaslahatan sejati bukan sekadar memenuhi kepentingan sesaat manusia, melainkan menjaga tujuan utama syariat: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Dalam konteks ekologis, kerusakan lingkungan jelas mengancam kelima aspek tersebut. Karena itu, menjaga alam merupakan bagian integral dari realisasi maqashid syariah dan perwujudan ketakwaan yang utuh.

Penulis : Lukman Ahmad Irfan

Editor : dipadilaga

Sumber Berita: Nahnu TV

Berita Terkait

GURU: KEPAKAN KECIL YANG MENGGERAKKAN PERADABAN
Drama Minta “Boyong”: Saat Anak Merengek Berhenti Mondok, Orang Tua Harus Apa?
Tirakat Menahan Rindu: Kenapa Terlalu Sering ‘Nyambang’ Anak di Pondok Justru Bikin Runyam
Membongkar Kesalahan Logika dalam Kritik Terhadap NU
Ujung Akhir dari Segala Ilmu
TEKNIK AMALAN JUM’AT TERAKHIR BULAN RAJAB
STRATEGI MEMILIH PEMIMPIN
Laporan Perkembangan; MA Diponegoro Miliki Catatan dan Tantangan
Berita ini 55 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 6 Mei 2026 - 13:31 WIB

GURU: KEPAKAN KECIL YANG MENGGERAKKAN PERADABAN

Kamis, 30 April 2026 - 08:18 WIB

Drama Minta “Boyong”: Saat Anak Merengek Berhenti Mondok, Orang Tua Harus Apa?

Kamis, 30 April 2026 - 07:23 WIB

Tirakat Menahan Rindu: Kenapa Terlalu Sering ‘Nyambang’ Anak di Pondok Justru Bikin Runyam

Minggu, 21 Desember 2025 - 21:16 WIB

Penguatan Keharmonisan Manusia dan Alam Melalui Takwa Diagonal

Kamis, 6 November 2025 - 11:48 WIB

Membongkar Kesalahan Logika dalam Kritik Terhadap NU

Berita Terbaru

Artikel

Rabu, 6 Mei 2026 - 13:39 WIB

Artikel

GURU: KEPAKAN KECIL YANG MENGGERAKKAN PERADABAN

Rabu, 6 Mei 2026 - 13:31 WIB

Artikel

PENDATAAN ANGGOTA DAN PENGURUS PW PERGUNU DIY

Rabu, 6 Mei 2026 - 09:43 WIB