Selesai dari Bantul, rombongan bergerak ke arah barat, menuju perbukitan Kulon Progo. Di sana, mereka bersimpuh di makam Nyi Ageng Serang. Kehadiran di makam pahlawan perempuan legendaris ini menghadirkan atmosfer yang berbeda—ada getaran keteguhan dan semangat pantang menyerah yang mengalir ke dalam sanubari para guru. Mengajar di era digital dengan karakter Gen Z yang dinamis tentu membutuhkan ketahanan mental yang kokoh, persis seperti kegigihan sang pahlawan dalam merawat tanah airnya.
Trilogi perjalanan spiritual ini berakhir di Mlati, Sleman, tepat di pusara Mbah Nur Iman. Di sini, keheningan terasa begitu pekat. Di antara nisan-nisan tua, bibir para guru tak putus melantunkan Shalawat Nuril Anwar. Sebuah amalan batin yang menjadi wasilah, memohon agar jalan panjang penerimaan murid baru tahun ini diberi kelancaran, keberkahan, dan dijauhkan dari segala aral melintang.
Melihat para guru khusyuk berdoa dalam balutan pakaian rapi, ada pemandangan humanis yang menyentuh hati. Mereka yang sehari-hari berkutat dengan kurikulum, target administratif, dan pengajaran kompetensi teknik, kini menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Di hadapan sejarah, mereka sadar bahwa kecerdasan murid tidak hanya lahir dari ruang kelas yang canggih, melainkan dari tetesan doa guru-guru yang ikhlas di sepertiga malam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
SMK Diponegoro Depok memang bukan sekolah kejuruan biasa. Sekolah ini berdiri di atas mandat yang besar: mengintegrasikan keterampilan dunia kerja dengan fondasi moral pesantren. Melalui ziarah ini, identitas spiritual itu kembali diteguhkan.
Sore perlahan luruh menjadi magrib saat rombongan bersiap kembali ke sekolah. Debu perjalanan menempel di pakaian, namun wajah-wajah para pendidik itu tampak lebih cerah. Ada beban yang luruh, digantikan oleh kelapangan dada yang baru.
Mereka pulang bukan membawa jaminan angka pasti berapa jumlah murid yang akan mendaftar esok hari. Mereka pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: kepasrahan yang hidup dan harapan yang menyala. Sebab pada akhirnya, manusia hanya bertugas merancang strategi terbaik dan mengetuk pintu langit, sementara ketetapan terbaik sepenuhnya milik Sang Maha Kuasa. Dari ziarah tumbuh doa, dan dari doa itulah masa depan SMK Diponegoro Depok digantungkan.
Penulis : Ris
Editor : Rumi Risang
Sumber Berita: SMK Diponegoro Depok
Halaman : 1 2










