Menitipkan anak ke pesantren itu butuh keberanian ganda. Keberanian pertama untuk melepaskan anak hidup mandiri, dan keberanian kedua—yang sering kali lebih berat—adalah keberanian orang tua untuk menahan rindu.
Di era sekarang, jalan tol makin mulus, mobil makin nyaman, dan rasa kangen bisa dengan mudah ditebus hanya dengan menyalakan mesin kendaraan di akhir pekan. Akibatnya, pemandangan hari Ahad di pesantren modern sering kali lebih mirip area rest area jalan tol. Penuh sesak oleh deretan mobil wali santri yang membawa aneka bekal, dari ayam goreng fast food, piza, hingga camilan satu koper.
Niatnya memang mulia: kasih sayang. Namanya juga orang tua, melihat anak makan enak dan tersenyum tentu jadi surga tersendiri. Namun, tanpa disadari, intensitas menjenguk yang berlebihan alias over-nyambang ini justru perlahan menggerogoti mental sang anak.
Mari kita sepakati satu hal: pesantren bukanlah daycare berkedok agama. Pesantren adalah kawah candradimuka. Di sana, anak tidak hanya belajar membaca Al-Qur’an atau memahami Nahwu-Shorof. Jauh dari sekadar kurikulum kertas, kurikulum terberat di pondok adalah belajar menahan rindu, merawat kesabaran, dan menaklukkan ego.
Ketika orang tua terlalu sering menjenguk—sedikit-sedikit ditelepon, tiap minggu didatangi—anak akan kehilangan momen emas untuk memeluk rasa rindunya sendiri. Alih-alih bergantung pada kekuatan doa dan rapalan wiridnya, anak malah bergantung pada kedatangan bapak-ibunya. Begitu akhir pekan tiba dan kebetulan orang tuanya absen karena sibuk, dunia si anak seolah runtuh. Fokusnya buyar, hafalannya ambyar.
Coba bayangkan, dari Senin sampai Sabtu anak sudah berusaha move on, fokus murojaah, dan mulai enjoy dengan teman-temannya. Lalu di hari Ahad orang tuanya datang membawa kehangatan rumah yang tumpah ruah. Saat sore hari orang tuanya harus pulang, luka rindu yang sudah agak mengering itu dikoyak lagi. Si anak menangis lagi. Gelisah lagi. Siklus ini terus berulang, membuat anak jadi “santri part-time” yang fisiknya di pondok, tapi mentalnya selalu tertinggal di rumah.
Jenguklah secukupnya. Sapa mereka, beri senyum paling menenangkan, usap kepalanya, dan kirimkan afirmasi positif. Kehadiran yang sejenak namun berkualitas jauh lebih bermakna daripada hadir tanpa batas yang justru melahirkan ketergantungan.
Izinkan mereka punya waktu untuk fokus pada nadhom yang harus dihafalkan, antrean mandi yang harus ditaklukkan, dan jadwal piket yang harus diselesaikan. Semua kerumitan itu, tangis diam-diam mereka di pojok asrama, hingga disiplin ketat yang mereka jalani, adalah material utama untuk membangun pondasi kemandirian dan akhlak mereka di masa depan.
Orang-orang tua kita zaman dulu punya cara mencintai yang sangat elegan. Mereka jarang menjenguk bukan karena tak sayang, tapi karena mereka sedang melakukan “tirakat”. Mereka mempuasakan diri dari melihat anaknya, lalu mengganti rasa rindu itu dengan bangun di sepertiga malam.
Mereka sadar betul bahwa doa orang tua yang dipanjatkan dari kejauhan dengan derai air mata di atas sajadah, memiliki “sinyal” dan “kuota” yang jauh lebih tak terbatas dibanding kunjungan fisik semata. Doa adalah energi terbesar bagi santri. Ia melesat menembus tembok asrama, masuk ke rongga dada sang anak, dan menguatkan batinnya dari dalam.
Mencintai anak tidak selalu diukur dari seberapa sering kita memeluk fisiknya. Kadang, kasih sayang yang paling bijak adalah ketika kita berani mundur selangkah, melepaskan mereka, dan membiarkan mereka ditempa.
Percayalah pada prosesnya. Jenguklah sewajarnya, doakanlah sehebat-hebatnya. Karena orang tua yang bijak adalah mereka yang mencintai anaknya tanpa membuat sang anak kehilangan arah dan fokusnya.
Penulis : Dipadilaga
Editor : Rumi Risang










