Drama Minta “Boyong”: Saat Anak Merengek Berhenti Mondok, Orang Tua Harus Apa?

- Penulis

Kamis, 30 April 2026 - 08:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bagi orang tua santri, tak ada momen yang lebih meruntuhkan pertahanan hati selain mendengar suara parau anak di ujung telepon, “Ma, Pak… aku nggak kuat. Aku mau pulang aja.” Di detik itu juga, rasanya dunia runtuh. Naluri protektif orang tua langsung meronta. Ada dorongan impulsif untuk menyalakan mobil detik itu juga, meluncur ke pesantren, mengemasi koper anak, dan membawanya kembali ke kamar tidurnya yang hangat di rumah.

Bimbang; lanjut atau hentikan mondok? Ini adalah persimpangan paling kritis. Namun, sebelum Panjenengan mengambil keputusan besar untuk mem- boyong (menarik) anak dari pesantren, mari tarik napas panjang. Duduklah sebentar, dan seduh teh hangat Panjenengan.

Mari kita urai benang kusut ini dengan kepala dingin.

Jangan Mengambil Keputusan di Puncak Emosi

Aturan pertama dan paling utama dalam dunia parenting pesantren adalah: Jangan pernah mengambil keputusan besar dari satu emosi yang sedang penuh.

Keputusan untuk memberhentikan anak dari pesantren tidak boleh lahir dari satu malam yang berat, atau dari satu percakapan telepon yang penuh isak tangis. Mengapa? Karena capek, rindu masakan rumah, dan ingin pulang adalah fase harian yang sangat wajar, terutama di tahun-tahun awal masa takhossus atau adaptasi.

Lihatlah polanya, bukan satu kejadiannya. Anak menangis hari ini, bisa jadi esok paginya ia sudah tertawa terbahak-bahak memperebutkan lauk tempe dengan teman asramanya. Jangan langsung menyimpulkan bahwa anak Panjenegan “tidak cocok” mondok hanya karena ia sedang kalah oleh rasa kangen sesaat.

Baca Juga :  Ilmu Sosial Profetik dan Social Capital sebagai Pondasi Bagi Peradaban Islam Modern

Beda “Tidak Nyaman” dan “Tidak Aman”

Inilah poin paling krusial yang sering luput dari kacamata orang tua yang sedang panik. Kita harus jeli membedakan mana situasi “tidak nyaman” dan mana situasi “tidak aman”. Keduanya butuh penanganan yang 180 derajat berbeda.

Tidak nyaman adalah ketika anak mengeluh harus antre mandi subuh-subuh, makan lauk seadanya, harus menghafal banyak nadhom, atau tidur berdesakan di karpet asrama. Jika ini masalahnya, orang tua harus tegas. Ketidaknyamanan ini adalah bagian dari proses tumbuh. Pesantren memang didesain untuk mengeluarkan anak dari zona nyamannya agar ia menjadi tangguh.

Namun, tidak aman adalah cerita lain. Jika anak menjadi korban perundungan (bullying) yang sistematis, mengalami kekerasan fisik, atau ada indikasi pelecehan, maka ini adalah red flag! Ini adalah situasi yang menuntut Panjenengan untuk langsung bereaksi, datang ke pesantren, meminta klarifikasi pengasuh, atau bahkan menarik anak Panjenengan demi keselamatan jiwa dan mentalnya.

Dengarkan Tangisnya, Tapi Tetap Pegang Kemudinya

Terkadang, anak merengek minta pulang itu bukan karena ia benar-benar tidak mampu bertahan. Seringkali, ia hanya sedang rindu dan butuh validasi bahwa perasaan lelahnya didengar oleh orang tuanya.

Dengarkan anak Panjenengan secara penuh. Peluk ia lewat kata-kata. Katakan, “Ibu tahu kamu capek. Ayah tahu kamu kangen rumah. Itu wajar, Nak.” Anak butuh didengar, tanpa kita harus menuruti semua permintaannya. Di sinilah letak ujian kedewasaan orang tua. Orang tua adalah kapten kapal; Panjenengan mendengarkan keluhan kelasi yang mabuk laut, tapi Panjenengan tidak lantas memutar balik arah kapal yang sudah berlayar. Komunikasi yang memvalidasi rasa sakit anak, jauh lebih dibutuhkan daripada reaksi cepat untuk memindahkannya ke sekolah lain.

Baca Juga :  Ujung Akhir dari Segala Ilmu

Kembali ke Garis Start

Jika kebimbangan itu makin memuncak, cobalah memejamkan mata dan ingat kembali niat di hari pertama. Ingat kembali tujuan awal mengapa keputusan untuk memondokkan anak ini diambil.

Apakah dulu Panjenengan bermimpi melihatnya bisa menyalatkan jenazah Panjenengan kelak? Apakah Panjenengan ingin ia punya tameng tauhid yang kuat di tengah zaman yang makin gila ini? Jangan biarkan emosi sesaat karena satu-dua bulan adaptasi menghapus niat besar yang sudah dirancang untuk seumur hidupnya.

Kesabaran anak di pondok, air mata kerinduan yang ia tahan, dan kedisiplinan yang sedang menggerus egonya, adalah serpihan proses pencetakan pribadi yang berakhlak mulia. Tirakat anak di dalam pesantren harus diimbangi dengan tirakat orang tuanya di rumah.

Yakinlah, keputusan besar dan jalan keluar yang indah tidak akan lahir dari kepanikan semalam. Ia hanya akan lahir dari pemahaman yang utuh, kesabaran yang berlapis-lapis, dan tentu saja, dari doa orang tua yang tak pernah putus mengangkasa.

Penulis : Dipadilaga

Editor : Rumi Risang

Berita Terkait

Tirakat Menahan Rindu: Kenapa Terlalu Sering ‘Nyambang’ Anak di Pondok Justru Bikin Runyam
Ikhtiar Mencetak Generasi Rabbani di Kota Pelajar: Profil Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro dan Info Penerimaan Santri Baru
Penguatan Keharmonisan Manusia dan Alam Melalui Takwa Diagonal
9 Pesantren Terbaik di Jogja, Ponpes Pangeran Diponegoro Masuk Jajaran Unggulan
Membongkar Kesalahan Logika dalam Kritik Terhadap NU
Keajaiban Sholawat Burdah dalam Perang Jawa: Karomah Pangeran Diponegoro di Rawa Pening
Ketika Belajar Jadi Menyenangkan: Rahasia di Balik Pendekatan Deep Learning
Ujung Akhir dari Segala Ilmu
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 08:18 WIB

Drama Minta “Boyong”: Saat Anak Merengek Berhenti Mondok, Orang Tua Harus Apa?

Kamis, 30 April 2026 - 07:23 WIB

Tirakat Menahan Rindu: Kenapa Terlalu Sering ‘Nyambang’ Anak di Pondok Justru Bikin Runyam

Jumat, 9 Januari 2026 - 22:19 WIB

Ikhtiar Mencetak Generasi Rabbani di Kota Pelajar: Profil Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro dan Info Penerimaan Santri Baru

Minggu, 21 Desember 2025 - 21:16 WIB

Penguatan Keharmonisan Manusia dan Alam Melalui Takwa Diagonal

Kamis, 18 Desember 2025 - 00:32 WIB

9 Pesantren Terbaik di Jogja, Ponpes Pangeran Diponegoro Masuk Jajaran Unggulan

Berita Terbaru