INTRUKSINYA LANGSUNG

dari Yang Maha Berkehendak

Peserta mujahadah berikrar hajat

Pergunu DIY β€“SEWON– Jamaah simpel saratnya. Yang penting tidak sendirian. Meski sendiri sangat mungkin lari lebih cepat, namun jamaah masih top kelasnya. Keutamaan berjamaah terus diajarkan dan dipraktikkan para profesional dan pemimpin. Meski berat dan gerak cepat tidak mudah dioperasikan. Sendirian energinya kecil. Nilainya ganjil, minim capaianya. Namun dengan jamaah energinya super. Berlipat nilainya dan maksimum capaiannya. Pekerjaan yang berat hendaknya berjamaah pelaksanaanya. Urusan besar yang nilainya besar afdolnya juga berjamaah. Berjamaah itu ajaran aswaja. Nahdiyyin mempraktikanya dalam berbagai ritual dan kemasyarakatan, selamatan, tahlilan dan mujahadah misalnya. Pula berjamaah menjadi budaya yang terbarukan diera industri dan perkembangan teknologi.  

Dua orang sudah masuk kriterium jamaah. Simpel bukan. Praktik jamaah sedari kanjeng nabi dipraktikkan. Mulanya dalam salat rawatib. Motivatornya kontan dari diri Nabi Muhammad Saw sang penyempurna akhlak manusia. Jamaah menjadi model sakti hingga zaman 4.0 sekarang ini, usung kecakapan kolaboratif. Penegembanganya untuk semua urusan dan tujuan, ukhrowi pun urusan duniawi. Sendirian memang bisa, berjamaah tetap yang luar biasa. Keyakinan berjamaah memberi untung. Teori dan referensinya mutawatir. Bahkan diera disrupsi saat inipun menjadi salah satu kompetensi pokok abad 21.

Praktik berjamaah dilaksanakan perkumpulan guru-dosen penggiat kemandirian dan kesejahteraan yang tergabung dalam “Mujahadah Nabung Lemah”. Fauzan salah satu pesertanya mengatakan, jauh jauh dimalam hari kami datangi. Sleman-Bantul terasa dekat dan nikmat meski dinginya angin diperjalanan menghantam badan. Berjamaah dalam panyuwunan Rotibul hadad di Widoro Bantul kami laksanakan sebagai kegiatan mujahadah lapanan. Satu komando sama asa. Kami minta doa tambahan rekan-rekan untuk kelancaran dan hasil maksud PPDB perdana MA Diponegoro tahun pelajaran 2022/2023.

Satu komando satu asa. Energinya berlipat ganda. Hikmahnya luar biasa. Dalilnya qot’i. Tidak boleh gagap di era 4.0/5.0. Apalagi kehilangan semangat dan ketinggalan zaman. Ayo bersama, kolaboratif, berjamaah. Berbaris rapi ikuti irama sistematika kehidupan. Jalurnya bukan ajaran syetan, menuruti kemauan diri atau golongan sendiri yang kita ikuti. Jamaah itu simpel. Yang penting tidak sendirian, memikirkan, melakukan, pun bagaimana menemukan. Harapanya mencari berkah. Berjamaah itu sakti. Malaikat ikut mengamini.

Komandonya sama selapanan mujahadah bersama Rotibul Hadad keliling Jogja sesuai dengan domisili tempat tinggal peserta. Komandonya sama bersilaturahmi dalam forum mengaji bilamana mendapat kopi itu hanya apresiasi tuan rumah. Komandonya sama dimulai dari bismillah diakhiri hamdalah. Komandonya sama para pewaris nabi yang memulai kita yang mengamalkan hingga kini. Apapun asa peserta mujahadah senjata luar biasa. Guru giat, di sekolah semangat di masyarakat banyak tempat. Pusakanya mujahadah. Gaji seadanya, namun bagaimana bisa punya tanah atau rumah pula hajat-hajat penting lainya. Intruksinya langsung dari Yang Maha Berkehendak. Firman-Nya ΓΊndΓΊni astajib lakum, al-Ayah. (Bj)