Cipasung 1994: Gus Dur, NU, dan Nafas Demokrasi yang Ditekan Rezim

- Penulis

Senin, 26 Mei 2025 - 10:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Desember 1994. Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, tak hanya menjadi lokasi Muktamar ke-29 Nahdlatul Ulama (NU). Ia berubah menjadi panggung sejarah: ketika kekuasaan mencoba mencengkeram organisasi ulama tertua di Indonesia—dan gagal. Ketika rakyat kecil bersatu mempertahankan harga diri ormasnya—dan menang.

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang dua periode memimpin PBNU dengan penuh gebrakan, kembali mencalonkan diri. Tapi langkahnya menghadapi aral melintang. Pemerintah Orde Baru, yang gerah dengan sikap kritis Gus Dur terhadap kekuasaan melalui Forum Demokrasi (Fordem) dan pernyataan-pernyataannya yang lantang, ingin menghentikan langkah itu.

Baca Juga :  Membongkar Kesalahan Logika dalam Kritik Terhadap NU

Melalui berbagai kanal, tekanan politik dijalankan. Figur alternatif didorong: Abu Hasan, seorang tokoh NU yang dianggap “lebih bisa diajak bekerja sama” oleh penguasa. Nama-nama besar seperti Jenderal Feisal Tanjung, Jenderal R. Hartono, bahkan Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut, dikaitkan dengan upaya penjegalan. Informasi demi informasi mengalir: dari intimidasi kepada peserta muktamar, pengerahan aparat secara masif, hingga “pembinaan khusus” kepada pengurus wilayah tertentu.

Muktamar yang semestinya religius, menjadi mencekam. Aparat keamanan berkeliaran, intel bergentayangan, dan suasana pondok pesantren berubah seperti arena pertahanan sipil. Tapi yang tak mereka duga: Gus Dur punya modal yang tak bisa dibeli—cinta dan kepercayaan dari warga NU di akar rumput.

Follow WhatsApp Channel www.pergunudiy.or.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Merawat Tradisi, Menjemput Masa Depan: Menyiapkan Generasi Emas Nahdliyin di Ekosistem Pendidikan Terintegrasi
Contoh Sambutan Perpisahan/Akhirussanah Kepala Sekolah Berbasis Pesantren
Kyai Nur Zaidin: Ulama Pejuang Diponegoro dan Perintis Dakwah Pesantren di Banyumas
Biografi Kyai Tasliman: Penjaga Sunyi Warisan Dakwah dan Jejak Perjuangan Diponegoro
Songsong Pelantikan, PW PERGUNU DIY Perkuat Jejaring dengan RMI dan UNY
Sambut Dawuh Sultan HB X, PW Pergunu DIY Siap Integrasikan PKJ di Madrasah
Konsolidasi Awal Kepengurusan, PW PERGUNU DIY Matangkan Pelantikan dan Bedah SK Masa Khidmat 2026–203
OPEN KONTRIBUTOR WEBSITE PW PERGUNU DIY
Berita ini 177 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 13:36 WIB

Merawat Tradisi, Menjemput Masa Depan: Menyiapkan Generasi Emas Nahdliyin di Ekosistem Pendidikan Terintegrasi

Kamis, 28 Mei 2026 - 10:17 WIB

Contoh Sambutan Perpisahan/Akhirussanah Kepala Sekolah Berbasis Pesantren

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:20 WIB

Kyai Nur Zaidin: Ulama Pejuang Diponegoro dan Perintis Dakwah Pesantren di Banyumas

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:13 WIB

Biografi Kyai Tasliman: Penjaga Sunyi Warisan Dakwah dan Jejak Perjuangan Diponegoro

Selasa, 19 Mei 2026 - 09:46 WIB

Songsong Pelantikan, PW PERGUNU DIY Perkuat Jejaring dengan RMI dan UNY

Berita Terbaru