Bapak Para Nabi & Teladan Peninggalannya

Oleh Fauzan, S.Pd.I, M.Ag

Pergunu DIY –Gamping– Nabi Ibrahim sabar dan optimis. Berhati baik, pemberani dan sakti. Berdakwah sedari rakyat biasa hingga raja. Hidup bersama masyarakat Babilonia penyembah benda langit dan berhala. Namrud bin Kan’an rajanya. Azar bin Nahrur nama ayahandanya. Hajar dan Sarah nama istrinya. Ismail dan Ishak dua putranya.

Nabi Ibrahim mencari Tuhan dengan pengamatan. Bintang, bulan, dan matahari, berhala bukanlah Tuhan menurutnya. Tidak mungkin Tuhan hilang dan rusak. Rab adalah penciptanya itu semua. Allah Rabbul Alamin menunjukkan kekuasan kepadanya.

Allah Maha Kuasa. Menghidupkan yang mati dan sebaliknya. Disuruhlah Nabi Ibrahim mencincang burung dan di letakkan di empat titik puncak gunung yang berbeda. Organ burung cincangan tersebut dipanggillah keras-keras. Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya. Burung yang mati itu hidup kembali terbang mendatangi Ibrahim hinggap di hadapannya.

Nabi Ibrahim as berdakwah untuk keluarga dan bangsanya. Mulai dari ayahnya, masyarakatnya, sampai ke rajanya. Mereka syirik pemuja berhala kebanggaannya. Ibrahim memporak-porandakan istana berhala mereka dan menyisakan patung terbesar. Raja marah besar dan membakar Ibrahim sebagai hukumannya.

Raja Namrud yang zalim, kejam, dan sombong membakar hidup-hidup Nabi Ibrim. Alhasil tidak sedikitpun ayahanda Ismail dan Ishaq tersebut kesakitan dan kebakaran. Api baginya terasa dingin dan tidak sedikit pun membakar dirinya. Allah melindungi dan menyelamatkan kekasihnya, Ibrahim as.

Ismail putranya dari Hajar. Dari Palestina menuju Makkah Ismail dibawa orang tuanya berhijrah ke Arab yang menjadi cikal bakal Masjid Haram. Mekah yang dahulu tandus kering kerontang. Hidup di belantara padang dijalani Hajar yang sedang merawat bayi mungil Ismail penuh keterbatasan, kehabisan pangan pula kekeringan, paceklik. Ismail menangis, kehausan dan kelaparan.

Kesabaran dan ketabahan Hajar merawat bayinya yang semakin payah. Berlarian berkali-kali tujuh kali Safa ke Marwa mencarikan pangan hampir tanpa harapan. Jibril datang membawa pertolongan. Tangis Ismail dan kerja keras Hajar menandainya anugerah baginya dan umat sedunia hingga saat ini. Atas kekuasaan Allah gejakan kaki menangisnya ismail muncul sumber air, zamzam dinamakannya.

Ismail anak yang pemberani, bertanggung jawab, dan solih. Berbakti, mengikuti kata orang tua. Ayahandanya bermaksud menyembelihnya, Ismailpun meyakini bahwa yang demikian perintah Allah. Ia mempersilahkannya, siap menjadi kurban. Atas keikhlasan, kepasrahan dan kesiapan itulah Jibril menebusnya dengan domba gibas pengganti penyembelihan Ismail. Perintah dan ujian Allah dilaksanakan dan diterima dengan baik.

Berikutnya proyek baru diterima dan sukses dikerjakan. Atas perintah Allah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as membangun Kabah. Hal ini bisa di baca di QS (2): 127-129. Dari keteladanan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as kita ikuti jejaknya. Berkurban bagi yang mampu. Berhaji ke Baitullah sekali seumur hidup sebagai ajaran penyempurna keislaman pula bagi yang mampu. (PAI/III/B12-F)