Bedug Penanda Zaman

BUKAN PENGGANTI AZAN

Bedug Masjid Jami Ainulyaqin Ujungpangkah Gresik

Pergunu DIY –GRESIK– Bedug merupakan produk kebudayaan. Terbuat dari glondong kayu jati atau nangka dan dibentuk sedemikian rupa. Lapisan terdalam diambilnya hingga bagain tengah glondong kosong. Glondong kosong berikutnya ditutup dengan dilapisi samakan kulit hewan. Jika dipukul atau ditabuh bunyinya keluar. Terdengar keras menyebar ke berbagai penjuru mata angin.

Bedug akan mengeluarkan bunyi khas. Pukulan demi pukulan seperti itu pula bunyi-bunyinya. Halus keras dan temponya bisa dimainkan atau disesuaikan. Tabuh bedug berkumandang dari masjid atau musala sehingga para pekerja berhenti mengakhiri kegiatanya. Harapanya segera ke masjid mengikuti seruan azan muazin.     

Bedug pesawat dakwah. Penyampai pesan ajakan beribadah. Keberadaanya populer di tanah air. Ukuran besar-kecil bedug biasanya disesuaikan masjid atau musala. Masjid gede acap kali gede pula bedugnya. Masjid kecil ukuran bedugnya kecil pula. Biasanya musala memiliki pengganti bedug, yakni kentongan.

Kentongan juga terbuat dari bahan glondong kayu. Berbeda dengan bedug, kentongan tidak membutuhkan membran penutup. Kayu glondong diambil lapisan tengahnya namun tetap tertutup ujung-ujungnya. Lubang panjang dibuat satu sisi. Dipukul cara membunyikanya. Thong, thong, thong bunyinya. Bagi orang jawa thong artinya kothong, musala belum terisi penuh.

Bedug menjadi pesawat dakwah yang memiliki fungsi sosial budaya dan agama. Penanda zaman. Dalam satuan hari ada salat mafrudlah lima waktu. Bedug hadir menjelang azan berkumandang. Dalam satuan pekan, bedug hadir menjelang khotib naik mimbar jumatan. Dalam satuan tahun bedug hadir menandai awal dan akhirnya ramadhan.

Bedug produk budaya yang estetik. Bunyi-bunyinya membawa pesan dakwah yang rahmah. Menstimulasi warga beribadah tepat waktu. Buyi deng, deng, deng … bagi orang Jawa diartikulasikan deng sedeng. Masjid masih muat. Masuklah dan dirikan salat berjamaah. Cukupkan aktifitas duniawi dan segeralah bersujud kepada Ilahi.

Keberdaan beduk tidak menjadi syarat dalam prosesi ibadah salat. Bedug hanya penanda zaman. Bedug merupakan pesawat dakwah. Bunyinya tidak memerintah tetapi menstimulasi, atau memotivasi. Salah memaknai berakibat fatal. Imam Samudra, nara pidana bom Bali bertindak bodoh merusak bedug di kampungnya sendiri, Lopang Gede Banten lantaran glondong bermembran tersebut jauh dari islami.

Bedug juga bukan termasuk rukunnya azan lebih-lebih salat. Dizaman kanjeng nabi Muhammad saw azan semata penandanya ajakan dirikan salat. Bedug penanda zaman yang memiliki nilai estetik. Salah menagkap fungsinya buruk akibatnya. Dizaman orde baru bedug masjid dilarang dan disingkirkan. Penguasa merusak buda bangsanya sendiri yang islami. 

Bedug tidaklah menyuarakan peringatan. Bedug ditabuh bunyi-bunyinya memperdengarkan pemberitahuan. Harapanya para pendengar berlari, melepas kesibukan kerja dan mengikhlaskan sejenak berbagai urusan lainya menuju zikir untuk menyembah kepada Allah swt. Dakwah adalah mengingatkan dan mengajak dengan kelembutan.

Bedug tidaklah menyuarakan ancaman. Bedug dipukul bunyinya terdengar nyaring. Bedug memberikan sinyal zaman kebaktian. Lebih masuk akal memukul beduk dari memukul orang bukan. Harapanya hati yang keras atau yang lalai kemudian tergerak menuju kemenangan. Dakwah itu bil-ihsani, berlaku dan berkomunikasi yang terbaik.  

Pendapat ulama KH Jauhar Arifin Cirebon, dan KH Fakih Maskumambang Gresik memperbolehkan bedug sebagai pesawat dakwah di masjid-masjid. Hukumnya sunnah. Hasil Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke 11 di Banjarmasin  tahun 1936 M juga memperkuat pandangan dan ijtihad para ulama salafus salih.

Penulis Fauzan Satyanegara/ Sekretaris PW Pergunu DIY