Membongkar Kesalahan Logika dalam Kritik Terhadap NU

- Penulis

Kamis, 6 November 2025 - 11:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Argumentasi tandingan

Setiap kritik dan pernyataan pedas yang dilontarkan oleh mereka, NU sebagai organisasi yang selalu berpegang pada prinsip tasammuh, tawazun, tabayyun dan ta’adul nya bisa dipastikan terbuka dan menerima setiap kritik konstruktif dan menjadikannya sebagai refleksi dan evaluasi kedepannya. Pun ketika dihadapkan dengan narasi yang keliru, kita tidak perlu menanggapi dengan amarah yang begitu menguras energi, akan lebih elegan apabila kita memberikan argumentasi balik yang tajam, bijak serta meluruskan. Pertama, NU adalah kenyataan sosiologis, bukan hanya narasi politik. Keberadaan NU mewujud dalam ribuan pesantren yang dinaungi RMI, lembaga pendidikan (LP Ma’arif), lembaga amil zakat (LAZISNU), dan gerakan pemuda (ansor dan banser) yang aktifitasnya nyata berdampak bagi masyarakat luas. Aktifitas aktifitas ini berjalan mandiri, tidak bergantung pada siapa yang sedang berkuasa. Menyederhanakan realitas sosiologis yang begitu besar seolah hanya menjadi “permainan kursi” adalah sebuah bentuk pengingkaran terhadap fakta di lapangan.

Baca Juga :  TEKNIK AMALAN JUM'AT TERAKHIR BULAN RAJAB

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Baca Juga :  Ujung Akhir dari Segala Ilmu

Penulis : M. Robyana Mahendra | Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga

Editor : dipadilaga

Follow WhatsApp Channel www.pergunudiy.or.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Transformasi Pengasuhan Santri: Dari Kepemimpinan Karismatik Menuju Institutional Safeguarding di Pesantren Modern
Menepis Khawatir, Menjemput Maslahat: Meneguhkan Komitmen ‘Pesantren Aman’ di Pondok Pesantren Diponegoro
GURU: KEPAKAN KECIL YANG MENGGERAKKAN PERADABAN
Drama Minta “Boyong”: Saat Anak Merengek Berhenti Mondok, Orang Tua Harus Apa?
Tirakat Menahan Rindu: Kenapa Terlalu Sering ‘Nyambang’ Anak di Pondok Justru Bikin Runyam
Penguatan Keharmonisan Manusia dan Alam Melalui Takwa Diagonal
Ujung Akhir dari Segala Ilmu
TEKNIK AMALAN JUM’AT TERAKHIR BULAN RAJAB
Berita ini 387 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:09 WIB

Transformasi Pengasuhan Santri: Dari Kepemimpinan Karismatik Menuju Institutional Safeguarding di Pesantren Modern

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:16 WIB

Menepis Khawatir, Menjemput Maslahat: Meneguhkan Komitmen ‘Pesantren Aman’ di Pondok Pesantren Diponegoro

Rabu, 6 Mei 2026 - 13:31 WIB

GURU: KEPAKAN KECIL YANG MENGGERAKKAN PERADABAN

Kamis, 30 April 2026 - 08:18 WIB

Drama Minta “Boyong”: Saat Anak Merengek Berhenti Mondok, Orang Tua Harus Apa?

Kamis, 30 April 2026 - 07:23 WIB

Tirakat Menahan Rindu: Kenapa Terlalu Sering ‘Nyambang’ Anak di Pondok Justru Bikin Runyam

Berita Terbaru