Argumentasi tandingan
Setiap kritik dan pernyataan pedas yang dilontarkan oleh mereka, NU sebagai organisasi yang selalu berpegang pada prinsip tasammuh, tawazun, tabayyun dan ta’adul nya bisa dipastikan terbuka dan menerima setiap kritik konstruktif dan menjadikannya sebagai refleksi dan evaluasi kedepannya. Pun ketika dihadapkan dengan narasi yang keliru, kita tidak perlu menanggapi dengan amarah yang begitu menguras energi, akan lebih elegan apabila kita memberikan argumentasi balik yang tajam, bijak serta meluruskan. Pertama, NU adalah kenyataan sosiologis, bukan hanya narasi politik. Keberadaan NU mewujud dalam ribuan pesantren yang dinaungi RMI, lembaga pendidikan (LP Ma’arif), lembaga amil zakat (LAZISNU), dan gerakan pemuda (ansor dan banser) yang aktifitasnya nyata berdampak bagi masyarakat luas. Aktifitas aktifitas ini berjalan mandiri, tidak bergantung pada siapa yang sedang berkuasa. Menyederhanakan realitas sosiologis yang begitu besar seolah hanya menjadi “permainan kursi” adalah sebuah bentuk pengingkaran terhadap fakta di lapangan.
Penulis : M. Robyana Mahendra | Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga
Editor : dipadilaga
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya









