Profil Pelajar Pancasila, Tekad Indonesia Unggul 2045

Bagian 2 dari 2

Dr Romi Siswanto (berpita biru) dkk
Dr Romi Siswanto (berpita biru) dkk

Pergunu DIY –Jakarta– Revolusi mental program NAWACITA Presiden Joko Widodo pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diharapkan menciptakan Profil Pelajar Pancasila. Yakni terwujudnya  SDM Indonesia unggul berjiwa Pancasila yang sekaligus menjadi perwujudan kado emasnya 100 tahun Kemerdekaan Indonesia 2045.

Penguatan pendidikan karakter (PPK) dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila melalui pendidikan karakter terutama meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab.

Penyelenggaraan PPK menggunakan pendekatan: kelas, budaya sekolah, dan masyarakat agar lebih optimal. Religius. Sikap religius mencerminkan keberimanan dan ketakwaan kepada Tuhan yang Maha Esa. Dengan penanaman nilai ini, siswa ditekankan agar menjadi pemeluk agama yang taat tanpa harus merendahkan pemeluk agama lain.

Integritas. Yakni selalu berupaya menjadikan dirinya sebagai orang yang bisa dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. Siswa yang berintegritas akan berhati-hati dalam menjalin pergaulan, sebab kepercayaan yang diberikan teman-temannya itu mahal harganya.

Maraknya praktik bullying, sekolah perlu membuat kebijakan tegas bahwa siswa di sekolah harus berperilaku positif antarteman sebagai bagian dari pembiasaan melatih karakter integritas. Kecurangan dalam menyelesaikan ujian juga dapat dihapuskan dengan mengimplementasikan nilai integritas melalui PPK.


Mandiri. Mandiri artinya tidak bergantung pada orang lain dan menggunakan tenaga, pikiran, dan waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi, dan cita-cita. Mandiri erat hubungannya dengan kesuksesan seseorang. Orang yang hidup mandiri sejak kecil umumnya meraih sukses saat menginjak usia dewasa. Itulah alasan mandiri menjadi karakter terdepan yang harus dimiliki anak sekolah.

Nasionalis. Nasionalis berarti menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Untuk memupuk jiwa nasionalis, perlu dimulai dari hal-hal kecil. Seperti mematuhi peraturan sekolah, menjaga kebersihan lingkungan, dan mengikuti upacara bendera dengan khidmat.

Jiwa nasionalis yang tumbuh kuat pada diri peserta didik di masa depan akan menjadi modal penting demi tetap tegaknya negara kesatuan republik Indonesia sekaligus mewujudkan Indonesia sebagai negara yang kuat dan mampu bersaing tidak hanya di tingkat regional, tetapi juga dalam skala global.

Gotong royong mencerminkan tindakan menghargai kerja sama dan bahu-membahu menyelesaikan persoalan bersama. Di era digital ini, tradisi gotong royong semakin lama semakin hilang akibat kerasnya tekanan hidup dan gaya hidup yang cenderung cenderung individualis. Kondisi ini tentu bertentangan dengan salah satu kecakapan abad ke-21 yaitu kolaborasi, bekerja sama.

Gotong royong merupakan wujud kolaborasi yang telah dipraktekkan nenek moyang kita sejak dulu yang sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Karena itulah, nilai gotong royong harus ditumbuhkembangkan melalui pembiasaan dalam praktik di sekolah, rumah, dan di masyarakat. Gotong royong dapat diwujudkan melalui pembiasaan seperti kerja bakti, mengedepankan musyawarah, dan saling menghargai antarteman.

Penanaman nilai gotong royong tersebut harus melibatkan seluruh stakeholder mulai dari kelas, sekolah, dinas pendidikan, organisasi masyarakat, dan pemerintah agar PPK dapat berjalan dengan baik. Untuk itu, PPK menggunakan tiga pendekatan yaitu berbasis kelas, budaya sekolah, dan masyarakat.

Pendekatan berbasis kelas dilakukan dengan cara: Pertama. Mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam proses pembelajaran secara tematik atau terintegrasi dalam mata pelajaran sesuai dengan isi kurikulum.

Kedua. Merencanakan pengelolaan kelas dan metode pembelajaran/ pembimbingan sesuai dengan karakter peserta didik. Ketiga. Melakukan evaluasi pembelajaran/ pembimbingan. Keempat. Mengembangkan kurikulum muatan lokal sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik daerah, satuan pendidikan, dan peserta didik.

Kelima. Pendekatan budaya sekolah dengan kearifan yang idmilikinya. Keenam pembiasaan nilai-nilai utama dalam keseharian sekolah. Ketujuh. Memberikan keteladanan antarwarga sekolah. Kedelapan. Membangun dan mematuhi norma, peraturan, dan tradisi sekolah. Kesembilan. Mengembangkan keunikan, keunggulan, dan daya saing sekolah.

Khusus bagi peserta didik pada satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar atau satuan pendidikan jenjang pendidikan menengah diberikan ruang yang luas untuk mengembangkan potensi melalui kegiatan ekstrakurikuler
Pendekatan berbasis masyarakat dilakukan dengan cara:

Pertama. Memperkuat peranan orang tua sebagai pemangku kepentingan utama pendidikan dan Komite Sekolah sebagai lembaga partisipasi masyarakat yang menjunjung tinggi prinsip gotong royong.
Kedua. Melibatkan dan memberdayakan potensi lingkungan sebagai sumber belajar seperti keberadaan dan dukungan pegiat seni dan budaya, tokoh masyarakat, alumni, dunia usaha, dan dunia industri.

Ketiga. Mensinergikan implementasi PPK dengan berbagai program yang ada pada lingkup akademisi, pegiat pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, dan lembaga informasi. Profil Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Profil Pelajar Pancasila mempunyai enam ciri yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia. Yakni pelajar yang berakhlak dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Ia memahami ajaran agama dan kepercayaannya serta menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Ada lima kunci beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia yaitu (a) akhlak beragama; (b) akhlak pribadi; (c) akhlak kepada manusia; (d) akhlak kepada alam; dan (e) akhlak bernegara. Berkebinekaan global dimaksudkan pelajar Indonesia mempertahankan identitas bangsa. Berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, saling menghargai dan terbentuknya budaya yang positif sesuai dengan budaya bangsa.

Elemen kunci kebhinekaan global meliputi mengenal dan menghargai budaya, mampuan berkomunikasi, dan bertanggung jawab terhadap pengamalan kebhinekaan. Bergotong royong artinya pelajar Indonesia memiliki kemampuan melakukan kegiatan bersama-sama dan bersuka rela. Elemen kunci bergotong royong adalah kolaborasi, kepedulian, dan berbagi.

Mandiri. Yaitu pelajar yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Elemen kunci mandiri terdiri dari kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi. Bernalar kritis dimaksudkan mampu secara objektif memproses informasi, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisisnya, menyimpulkanya, merefleksikan pemikirannya, dan cakap dalam pengambilan keputusan.

Kreatif. Yakni pelajar mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermanfaat, dan berdampak. Elemen kunci kreatif yaitu gagasan yang orisinal serta karya dan tindakan yang orisinal.
Pada masa pandemik Covid 19, pemerintah menerbitkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 719/P/2020 tentang pedoman pelaksanaan kurikulum pada satuan pendidikan dalam kondisi khusus.

Pelaksanaan kurikulum pada kondisi khusus bertujuan untuk memberikan fleksibilitas bagi satuan pendidikan untuk menentukan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran peserta didik. Rencana penerbitan kurikulum baru lebih kontekstual disesuaikan dengan kekhasan daerah masing-masing dan mengusung kearifan lokal.

Perwujudan Profil Pelajar Pancasila diharapkan pada tahun 2045 lahir generasi emas Indonesia yang cakap bersaing di kancah global, memiliki identitas ke-Indonesiaan dimanapun berada yang senantiasa mengedepankan nilai-nilai luhur Pancasila.

Penulis: Dr Romi Siswanto MSi (Fungsional Muda Ditjen GTK Kemendikbud RI)