Minuman Rekomendasi Petani dan Ahli Gizi

PERGUNU DIY – Kalasan -Yang alami kita jaga sehingga lestari. Agama kita menasehati. Makan dan minum yang alami, tidak berlebihan. Sumber sehat adalah menjaga makanan sepertiga untuk udara, sepertiga perut untuk makanan, sepertiganya lagi untuk minuman, dan sepertiga sisanya untuk udara.

Komposisi demikian ideal, membukakan pengetahuan dan berikutnya ada isyarat unsur gizi dan kandungan penting pangan.

Bukan anjuran para tani pun ahli gizi konsumsi coca-cola, fanta dan pepsi. Minuman berkarbonasi tersebut telah merebut hati masyarakat dunia, termasuk warga Indonesia. Rasanya luar biasa namun berbahaya dampak akhirnya.

Produk impor yang mengandung asam fostat tersebut menimbulkan efek samping jangka panjang diantaranya; serangan jantung, kanker, hipertensi, tumor otak, stroke, gagal ginjal, ketagihan sampai mendekatkan kematian.

Alam kita raya kaya sumber daya. Dari 1509-1945 Portugal, Spanyol, Belanda, Perancis, Inggris dan Jepang dahulu kala menjajah bangsa kita diantaranya karena penguasaan komoditas dunia rempah ataupun non rempah.

Cengkih, merica, panili, temu lawak, kunir, jahe merupakan empon-empon berkelas. Bukankah tanaman pangan tersebut bisa tumbuh baik di nusantara?

Qurán Al-Ihsan 76:17 menyatakan, ”di sana (surga) mereka diberikan segelas minuman bercampur jahe.” Bahasa klasik India menyebutnya zingiber officinale. Zanjabil kitab suci kita menyatakanya. Jahe, marman, melito, atau jae warga nusantara menamainya.

Meski masih kalah dengan India, Nigeria, dan China, Indonesia adalah termasuk penghasil jahe terbesar dunia. Tanaman herbal ini menjadi bahan penting obat-obatan; modern, tradisional, minuman maupun jamu.

Segala penyakit ada obatnya. Gangguan kesehatan seperti; masuk angin, mual, gangguan pencernakan, nyeri sendi, nyeri menstruasi, impotensi, nyeri otot, tumor, penyakit jantung, kolesterol tinggi, obesitas, diabetes, impotensi, dan kanker menjadi problem masyarakat.

Langkah antisipatif penting dilakukan. Perilaku hidup sehat perlu dibudayakan. Jahe menawarkan beragam keuntungan. Senyawa tanaman berimpang tersebut dapat menjadi penawar penyakit ringan hingga berat sebagaimana tersebut di atas.

Jahe dimanfaatkan sedari zaman nabi. Senyawanya volatile dan non volatile menjadi penanda ayat-ayat tercipta Allah Taála. Tidak kurang dari 32 negara di dunia memanfaatkan tanaman herbal ini untuk kepentingan medis.

Indonesia produsen jahe terbesar ke-4 dunia. Tahun 2019 Badan Penelitan dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisoonal (B2P2TOOT) Kementan merilis nilai ekspor jahe mencapai 13,53 juta dollar. Harga jahe basah di pasaran Rp. 30.000-40.000 per kilo gramnya.   

Negeri rempah Indonesia merupakan rahmat-Nya. Mutu jahe di negeri mother of spices, Indonesia, tersohor sedari zaman Portugal menjajah nusantara. Beragam produk pengembangan dan turunannya jahe perlu diapresiasi. Jamu, obat-obatan, dan produk aneka makanan-minuman sehat terutama yang wajib kita hargai dan lestarikan.          

Para tani dan ahli gizi memberi rekomendasi minuman sehat khas nusantara. Sekoteng, bandrek, wedang jahe, wedang ronde jahe, wedah uwuh, tahwa, permen jahe, saraba, bajigur, bir pletok, roti jahe dsb. Jahe emprit, gajah, merah juga dimanfaatkan dalam dunia tata boga nusantara sebagai bumbu masakan.

Ilmu dan teknologi terus membukakan pencerahan dan nasionalisme mengokohkannya. Masihkah yakin produk Amerika; coca-cola dan turunanya memberi guna; pro imunitas dan kesehatan kita?  

Penulis : Ozan