Membongkar Kesalahan Logika dalam Kritik Terhadap NU

- Penulis

Kamis, 6 November 2025 - 11:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam dinamika ruang digital, seringkali penulis, anda, atau bahkan kita semua menjumpai kritik dan pernyataan pernyataan pedas terhadap organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama’ (NU). Salah satu diantaranya adalah narasi yang menyatakan bahwa NU kini bukan lagi wadah ulama, melainkan sekedar “instrumen untuk mendapatkan jatah komisaris di pemerintahan”. Sebelum kita serta merta menerima atau menolak klaim tersebut, alangkah baiknya kita menelusuri dengan logika yang sehat. Tulisan ini tidak bermaksud membela secara membabi buta, tapi murni mengajak pembaca untuk melihat dengan kacamata kritis, dimana letak kelemahan berpikir dalam narasi yang seperti itu, dan bagaimana seharusnya kita menyikapinya dengan bijak?

Tiga dosa logika dalam satu narasi

Salah satu pernyataan pedas yang penulis sebutkan diatas seolah olah sifatnya begitu menggeneralisasikan NU secara keseluruhan dan ternyata memang mengandung beberapa logical fallacy (kesesatan berpikir) yang fundamental.

  1. Dosa generalisasi yang terlalu luas (overgeneralization) yang mengatakan seluruh NU dengan jutaan anggotanya, puluhan ribu pesantren, dan jaringan ke- Ulama’an yang sangat kompleks hanya berorientasi pada jabatan, adalah sebuah simplifikasi yang amat sangat berbahaya. Kesalahan ini timbul ketika mengambil beberapa contoh individu kader NU yang ndilalah duduk dikursi pemerintahan, yang kemudian mengecat NU secara keseluruhan dengan kuas yang sama. Faktanya, kinerja nyata NU di akar rumput, seperti hal nya pengelolaan pesantren, pendidikan melalui LP Ma’arif NU, pelayanan zakat infaq melalui LAZISNU, dan penjagaan tradisi Islam Nusantara ilaa akhirihi syaai’un, tetap berjalan tanpa selalu terkait dengan proyek politik praktis.
  2. Dosa dilema palsu (false dilemma), narasi ini menciptakan dikotomi semu: NU harus memilih antara “menjadi wadah Ulama” atau “menjadi instrumen politik”. Kurang lebih seperti pernyataan guru gembul pada vidionya yang tersebar luas di media sosial. Ia menyatakan bahwa “NU tidak lebih dari pemanis pilkada dan pemilu, bahkan lebih rendah levelnya”. Ini merupakan jebakan logika. Realitasnya , organisasi sebesar NU mampu menjalankan kedua peran itu secara paralel. Keterlibatannya dalam pemerintahan bisa dimaknai sebagai bagian dari amar ma’ruf nahi munkar dan keikutsertaan nya dalam membangun bangsa, sebagaimana spirit para Mu’assis NU sejak awal. Ulama’ ataupun Umaro’ bukanlah dua hal yang bertentangan, namun dua unsur yang saling melengkapi.
  3. Dosa kurangnya bukti (lack of evidence), klaim guru gembul bahwa NU “ tidak lebih dari pemanis pilkada dan pemilu, bahkan lebih rendah levelnya” adalah pernyataan faktual yang membutuhkan pembuktian. Namun, klaim tersebut justru dilontarkan tanpa disertai data, statistik, atau contoh kebijakan yang konkret. Sebaliknya, bukti bukti historis dan sosiologis menunjukan konsistensi NU sebagai garda terdepan dalam memelihara Islam yang moderat dan berbudi pekerti luhur di Nusantara. Dalam logika, beban pembuktian ada pada mereka yang membuat klaim. Tanpa bukti, klaim tersebut tidak lebih dari opini yang menyesatkan. Bahkan jika memang ada fakta dan data pembuktian klaim tersebut dari sebagian kader yang mungkin melenceng dari Khittah NU, tidak seharusnya kemudian di gebyah uyah dengan pembahasaan NU secara general. Hal itu tidak serta merta membatalkan nilai nilai luhur, sejarah, dan kontribusi nyata NU sebagai sebuah organisasi. Menilai suatu institusi seharusnya didasarkan pada kinerja, kebijakan, dan doktrin resminya, bukan malah pada oknum oknumnya.
Baca Juga :  Bad Influencers : Antitesis Pendidikan Karakter

Penulis : M. Robyana Mahendra | Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga

Editor : dipadilaga

Berita Terkait

Penguatan Keharmonisan Manusia dan Alam Melalui Takwa Diagonal
Ujung Akhir dari Segala Ilmu
TEKNIK AMALAN JUM’AT TERAKHIR BULAN RAJAB
STRATEGI MEMILIH PEMIMPIN
Laporan Perkembangan; MA Diponegoro Miliki Catatan dan Tantangan
𝙍𝘼𝘽𝙐 𝙒𝙀𝙆𝘼𝙎𝘼𝙉, 𝘼𝙈𝘼𝙇𝙄𝙔𝘼𝙃 𝙉𝘼𝙃𝘿𝙇𝙄𝙔𝙔𝙄𝙉 𝘿𝘼𝙇𝘼𝙈 𝙋𝙀𝙍𝙎𝙋𝙀𝙆𝙏𝙄𝙁 𝙁𝙄𝙌𝙃 𝙎𝙔𝘼𝙁𝙄’𝙄
Sebagian Niat Qurban, lainnya Niat Aqiqiqah
Duta Pembelajaran Darurat Covid di Rumah Murid
Berita ini 217 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 21 Desember 2025 - 21:16 WIB

Penguatan Keharmonisan Manusia dan Alam Melalui Takwa Diagonal

Kamis, 6 November 2025 - 11:48 WIB

Membongkar Kesalahan Logika dalam Kritik Terhadap NU

Rabu, 2 Juli 2025 - 22:07 WIB

Ujung Akhir dari Segala Ilmu

Jumat, 17 Februari 2023 - 01:18 WIB

TEKNIK AMALAN JUM’AT TERAKHIR BULAN RAJAB

Sabtu, 19 November 2022 - 08:14 WIB

STRATEGI MEMILIH PEMIMPIN

Berita Terbaru